Anak-Anak Langit


Sophie Amundsend, Pipi langstrump dan Totto Chan barangkali adalah tiga gadis kecil yang memberi saya banyak pelajaran tentang arti kemerdekaan dalam belajar. Atau pemikiran Jostein Gaarder, Astrid Lindgren dan Tetsuko Kuroyanagi lewat tulisannya memberikan inspirasi dan ketajaman saya tentang anak-anak. Dua tokoh sejarah yang banyak meberikan pandangan saya tentang gerakan. Ki Hajar Dewantara dan Romo J.B. Mangunwijaya lewat karyanya memberikan banyak jalan kepada anak-anak di negeri ini.

Ini hanya kisah tentang masa lalu yang kelam yang kemudian memberikan spirit tentang keperpihakan. Kepada siapa? Kepada mereka anak-anak yang hidup dilangit karna kekejaman dunia.

Saya selalu ingta bagaimana kisah perjalanan ‘Totto Chan’ mengelilingi dunia dan bertemu dengan anak-anak yang memiliki perjuangan keras hanya untuk hidup. Disetiap belahan dunia, dia mampu membuka hati saya akan anak-anak. Inilah titik balik, bahwa saya ingin membersamai kehidupan anak-anak.

Memang bukan hari ini. Saya sadar belum melakukan apapun untuk mereka. Namun, mimpi ini akan saya pertahankan hingga kelak saya mampu melakukan sesuatu untuk mereka. Saya ingat peristiwa beberapa tahun lalu ketika saya sering mengamati daerah sekitar. Pasar, terminal atau di sepanjang jalan kota. Atau, ketika  saya  berkunjung di salah satu sekolah luar biasa. Saya ingat bagaimana mereka melalui hidup. Saya ingat ketika mereka harus diasingkan, dikutuk menjadi orang yangberbeda. Saya ingat semua itu, ketika masa depan mereka harus dikorbankan.

Saya sering bertanya pada diri sendiri, “Mungkinkah ini terjadi? Di abad yang begiitu maju ini, bukan abad pertengahan. Siapa yang akan membiarkan kejahatan seperti ini akan dibiarkan? Bagaimana mungkin dunia tetap berdiam diri?”, saya pun mengutuk diri sendiri dalam hati “Lantas apa yang telah saya lakukan bagi hidupnya dan bagi masa depannya?”, saya pun mengatakan pada diri sendiri, saya belum melakukan apa-apa tapi saya akan melakukannya segera. Saya akan mencoba membuat kenangan itu tetap hidup hingga dapat membersamai saya akan kutukan ini.Saya akan melawan setiap rasa lupa. Dengan itu, saya tidak ikut dalam kaki tangn mereka yang membiarkan semua ini berlangsung.

Saya sering tidak habis pikir. Betapa naifnya kita saat ini (termasuk saya), bahwa dunia sebenarnya tahu apa yang terjadi, namun tetap membisu. Saya mencoba menyumpah diri bahwa saya tidak akan tinggal diam. Saya ingin mengambil sikap. Bukankah sikap netrla (diam) hanya menguntungkan mereka yang menindas, bukanlah korban-korban ini? Terkadang kitalah yang harus ikut campur.

Begitu banyak ktidakadilan dan penderitaan yang meminta perhatian. Seberapa banyak yang kemudian memalingkan muka menganggap tak pernah terjadi apapun. Kelaparan atau penyiksaan akibat ras atau mungkin masalah politik. Saya sering berpikir, kebenaran menjadi begitu tak jelas. Dan mungkin hal ini juga menimpaku. Bagaimana orang yang kelaparan itu harus mencuri hanya ingin mendapatkan sesuap nasi untuk bertahan hidup? Benarkah dia salah? Atau, jangan-jangan kitalah yang salah sehingga membiarkan mereka kelaparan. Apakah ini dapat dibenarkan. Siapakah sebenarnay pencurinya? Kita atau mereka? Mereka yang terampas haknya untuk hidup, saya rasa merekalah korbanya.

Di penjuru dunia terjadi pelanggaran hak asasi manusia. Bahkan, lebih banyak orang tertindas daripada mereka yang bebas. Bagaiman orang tidak begitu peduli dengan hal ini? Sebuah perbedaan antara kehidupan dan kematian. Bila masih ada orang-oarng yang mencuri untuk hidup, saya rasa kebebasan ini tidaklah sejati. Bila masihada seorang anak mengemis dan kelaparan, sya rasa hidup kita harusnya dipenuhi kesedihan dan rasa malu.

Mereka yang disisihkan. Yang mereka butuhkan adalah mengethui bahwa mereka tidak sendiri. Bahwa kita tidak melupakan mereka. Bahwa ketika mereka tercekik, kitapun ikut merasakanya. Dan bahwa saat kebebasan mereka tergantung pada kita, maka kebebasan kita pun tergantung pada mereka. Sadar atau tidak, itulah yang terjadi.

Tulisan ini hanya bentuk dari kepedihan hati. Hanya sebuah bentuk perasaan hati yang ngin di bagi bersama demi mereka yang tersisihkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s