Sajak Keyakinan


Saya mulai menerawang ketika kemudian cerita itu diakhiri dengan ucapan penuh kekecewaan. Kemarin kuputuskan untuk pulang kampung. Satu hal yang ingin ku dapat waktu itu, sebuah kedamaian. Namun apa yang kudapat, saya mulai terasingkan dengan cerita seorang gadis kecil yang selalu terlelap di siang hari.

Ini hanya sepengal kisah pilu dari dia, Indah  yang kini hanya mampu tertidur menyelami nasib. Entahlah, apakah dia telah sadar tentang hal ini.

Satu tahun bukanlah usia yang cukup untuk melihat seorang bayi menanggung cobaan begitu besar. Ya, dialah indah. Secara pribadi, saya belum pernah mengenalnnya sebelumnya. Dia adalah anak dari pasangan yang kurang begitu beruntung dengan nasibnya. Namun, entah kenapa? Saya sangat memahami mereka. Lebih dari pertemuan kita.

Seberapa sedihnya seseorang ketika tidak memiliki uang untuk menukarnya dengan kesehatan. Saya mendengar persis cerita-cerita itu. Bergetar ketika kemudian menyadari betapa hidup ini dengan Dia sebagai pemutar waktu dan penguasa Alam Semesta begitu kuat memberikan cobaan bagi hambanya itu.

Ketika, saya mendengar sepenggal kisah itu. Beberapa kalimat membuatku ingin meneteskan air mata. Tapi, amarahlah yang lebih membendung.

“Nak, kapan kamu sembuh. Lihatlah orangtuamu sudah tidak memiliki apa-apa? Tak kau kasihan dengan kami nak” (dalam bahasa jawa).

Pekiku dalam hati, saya ingin mengucapkan kata-kata ini “Jangan bicara seperti itu”, saya sudah hampir meledak dalam tangis. Saya, benar-benar tak ingin mendengar dia berbicara seperti itu. Lalu kemudian terbesit dalam hati. Betapa terhormatnya keluarga miskin ini, betapa harga diri menjadi hal yang sangat mereka utamakan. Lantas, disini saya hanya memilu, memikirkan banyak hal.

Sore hari ketika senja membawanya keperaduan. Santar berita ini mengusik keseluruh desa. Saya mulai kehilangan keyakinan ketika tau betul nasib keluarga itu. Saya merasa ingin mengantikanya. Tapi entah perasaan ini sungguh telah berakhir. Mereka tak mampu lagi berjuang, tak ada lagi kekuatan, tak ada lagi keyakinan. Yang kulihat, tatapan matanya kosong mkenerawang, yang kurasakan hanya tinggal sepasang luka, sepasang mata yang memancarkan kesedihan mendalam. Bahkan mungkin mereka mulai tidak mempercayai Tuhan. Entahlah, semua itu begitu mengusik diriku hingga saya tersadar, sayalah yang mungkin mulai tidak mempercayai Tuhan.

“Yang dia butuhkan adalah pekerjaan”, sebisik hatiku mengucapkan kata-kata itu. Namun siapa yangbisa memberinya, sedangkan saya sendiri lemah tak mampu memberikanya pekerjaan, saya masih pelajar. Sekali lagi, saya mulai berdoa kepada Tuhan. Memintanya sebuah petunjuk. Terasa menggorokan ini sesak tak mengalirkan doa yang lebih terlantun khusyuk. Entah, saya mulai ragu.

Dan menyesal telah mengucapkan keraguan dengan begitu dingin, begitu kering. Saya tahu tak seorangpun berhak berkata demikian. Manusia terlalu kecil, terlalu penuh keterbatasan untuk mencoba memahami kehendak Tuhan yang kadang tak terselami. Tapi apa yang bisa dilakukan orang seperti saya? Saya bukanlah orang bijak, saya bukanlah orang yang berpunya, dan bukan pula orang benar. Saya hanya makhluk sederhana dari darah dan daging, yang juga sama seperti mereka.

Ini belumlah berakhir, saya ingin percaya. Saya ingin merekapun demikian. Saya ingin mereka mempertahankan keyakinannya. Sya ingin begitu menyelami hatinya dan berkata bahwa penderitaan ini sebagai ujiannya.

Dilubuk hatiku, saya ingin indah tumbuh dewasa. Tanpa penyesalan sedikitpun terlahir dikeluarga ini. Dan jauh dalam hatiku, saya ingin keluarga ini menghembuskan nafas kedamaian yang akan membimbingnya dalam langkah kesederhanaan. Dia dalam sajak keyakinan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s