Mewujudkankan KMIT UGM yang Inklusif-Restoratif


Prespektif Analisis Membangun Sinergitas Elemen Ilmu Tanah*

Oleh : Angga Rieskiyanto**

“..harmonious relationship between the ruler and the ruled is that in which the ruled accept the rightness of the ruler superior power.” (Max Webber, The Theory of social and economic organization dalam Michael C Hudson, The Arab Politics the search for legitimacy)

Wajah KMIT UGM bisa dikatakan beberapa tahun ini tidak mendapat simpati dari mahasiswa kebanyakan, terbukti dari pastisipasi aktif dari kalanganya. Bisa dikatakan  KMIT UGM telah gagal menyentuh elemen masyarakat hingga ranah grass root. Tidak heran, banyak mahasiswa yang berpendapat  bahwa mereka tidak merasakan peran KMIT UGM. Bukannya tidak menghargai kinerja KMIT UGM,sebagai bagian dari elemen kemahasiswaan sendiri, penulis dapat melihat banyak sekali “kesibukan” dari KMIT UGM mengadakan kegiatan, mulai dari hal yang sifatnya substantif hingga berujung pada kegiatan normatif. Namun, tetap saja ketika penulis berinteraksi dengan mahasiswa Ilmu Tanah UGM. Suara skeptis terhadap KMIT UGM masih mendominasi dari kalangan mahasiswa. Lalu apa sebenarnya yang salah dari KMIT UGM bebarapa tahun ini?

Melihat realita diatas KMIT UGM sudah sepatutnya  bersifat progressif analitik, progressif disini adalah adanya upaya untuk menjadi sebuah insititusi yang selalu belajar dari proses untuk menjadi lebih baik. Dalam perjalanannya, KMIT UGM disadari  atau tidak memang telah menjalani hal-hal positif dan negatif sehingga dengan sifat progresif ini dapat dihindari pengulangan kesalahan-kesalahan yang ada. Sifat progresif ini juga dimaksudkan untuk upaya mencari solusi-solusi atas hal-hal klasik yang selalu melingkupi kemahasiswaan dengan cara yang terukur dan praktis, sehingga KMIT UGM tidak hanya mengulang program-program yang memang sejak dahulu telah ada.

Dari Ekslusif ke Inklusif

Hampir seluruh elemen mahasiswa sepakat, bahwa KMIT UGM beberapa hanya milik segelintir golongan, hanya diwarnai oleh satu ideologi, dan satu warna. Hal ini mengakibatkan greget atau progresifitas dari KMIT UGM kurang maksimal. Kita ketahui bersama ada banyak warna dan elemen gerakan. Dan banyak pula lokus – lokus dan habitus –habitus yang mewadahi minat dan bakat mahasiswa UGM. Tentu saja kita yakin dari setiap elemen,lokus,dan habitus itu terdapat Mahasiswa berkualitas yang siap utuk menjadikan Universitas Gadjah Mada ini lebih baik.

Dari Ekslusif ke inklusif,  menurut penulis, jika memang KMIT UGM ingin mendapat simpati kembali mahasiswa Ilmu Tanah UGM atau dalam hal ini mengembalikan kepercayaan dan kepemilikan KMIT UGM kepada masyarakat Mahasiswa (red: Mahasiswa Umum). KMIT UGM harus bermetamorfosis dari ekslusif yang hanya mengakomodir satu golongan ke inklusif mengakomodir semua golongan. Inklusif yang penulis maksud disini adalah jiwa dan niat dari KMIT UGM untuk mengakomodir seluruh elemen gerakan mahasiswa agar bersinergi bersama mewujudkan UGM pada umumnya dan KMIT UGM pada khususnya ke arah yang lebih baik.

Inklusif bukan sekedar baju atau pencitraan yang memang dibuat untuk membungkus komposisi KMIT UGM yang satu golongan tadi. Ibarat permen yang satu rasa , penggantian bungkus aneka rasa tanpa mengganti komposisi permen tersebut akan mengakibatkan kekecewaan karena pada kenyataannya bungkus aneka rasa  ternyata masih tetap tunggal rasanya. Inklusif bukan sekedar kosmetik atau penghias dan memasukkan keterwakilan atau keterbukaan akses saja. Tetapi ada partisipatif dan akomodotif dalam menetukan arah dan gerak KMIT UGM ke depan.

Partisipatif dan akomodatif bisa dikatakan adalah sebuah kunci dari kesuksesan inklusifitas KMIT UGM mendatang. Kita tahu bersama bahwa KMIT UGM mempunyai kader terbaik di habitusnya masing-masing. Namun ironisnya, jarang sekali kader terbaik dari setiap elemen tersebut berparsitipasi aktif dan diakomodasi untuk bersinergi di KMIT UGM.

Menjadikan KMIT UGM sebagai tempat bersinergi seluruh elemen mahasiswa. Itulah garis besar  suatu nilai  inklusif yang penulis tawarkan, Tentu saja sinergisitas ini harus bersifat cerdas dan tidak boleh lugu. Menjadikan seluruh elemen mahasiswa duduk dan berkontribusi bersama adalah bukan hal yang mudah. Tetapi dengan adanya ketersediaan akses dan akomodasi yang luas. Diharapkan KMIT UGM menjelma menjadi  kawah candra dimuka bersama yang  dimiliki oleh seluruh eleman mahasiswa bukan satu ideologi saja.

Secara garis besar dapat dikatakan KMIT UGM yang Inklusif  berarti terwujudnya sebuah kelembagaan yang demokratis dengan konsep pergerakan yang mencakup seluruh elemen mahasiswa yang berkaitan dengan KMIT GM, baik antar program, lembaga formal serta non-formal bahkan mencangkup masyarakat secara luas. Selain itu terbukanya akses yang akomodatif dari KMIT UGM kepada seluruh kader di seluruh elemen akan menjadikan sinergi yang positif untuk Universitas Gadjah Mada dan Indonesia yang lebih baik . Dengan kata lain, KMIT UGM  yang inklusif merupakan sebuah upaya untuk mengembalikan semangat kesatuan Mahasiswa Ilmu Tanah.

Membumikan KMIT UGM (Antara Nilai Kultural dan Restorasi)

Penulis melihat ketika membaca kembali platform dan visi Dwian Adi dharmawan, penulis  sependapat jika ada program lanjutan yang diadopsi dari kepengurusan sebelumnya. Tapi penulis lebih melihat program kerja satu tahun lebih didominasi kepada peningkatan kualitas KMIT UGM (baik personal maupun lembaga) dalam hal ini adalah internasionalisasi gerakan dan pengawalan wacana nasional bahkan ada penyeimbang program kerja down to earth atau membumi kapada masyarakat.

Menjadikan lembaga sekaliber KMIT UGM merambah wacana  Nasional adalah Wajib . Bahkan Internasionalisasi Gerakan pun adalah hal positif karena menjadikan KMIT UGM dipandang baik lebih luas lagi. Tapi yang harus diprioritaskan adalah bagaimana mahasiswa memandang KMIT UGM sendirilah yang sebenarnya harus diperbaiki. Jika tidak adanya program penyeimbang antara pengembangan kualitas KMIT UGM ke luar dengan pemassifan dengan mahasiswa umum ke dalam, maka yang akan terjadi adalah semakin lebarnya jurang pemisah antara KMIT UGM dan mahasiswa umum. Dan kesan elitis pulalah yang akan bertambah kuat dan melekat pada lembaga Mahasiswa ini .

 Secara kultural, tepat apabila sebuah lembaga kemudian melihat dan berkaca kepada kepemimpinan sebelumnya, hal ini bisa jadi menjadi pijakan terbentuknya lembaga yang evaluatif terhadap kepengurusan mendatang. Namun, paradigma yang berkembang tidaklah sejalan dengan nilai evaluatif, dogma dan kultur yang berkembang di ambil tanpa dipilah bahwa kemudian ekses tersebut masih layak atau relevan di jalankan atau harus di rubah untuk mendapatkan pendekatan terbaik dari arus social movement.

Restoratif merupakan upaya terbaik membentuk sebuah lembaga yang lebih baik, tidak saja pada program yang ditawarkan namun kemudian terejawantahkan menjadi karakter pemimpin yang visioner. Restoratif harus kemudian di ambil sebagai kritis analisis terhadap sebuah pandangan, sehingga mahasiswa tidak hanya terbawa arus dogmatis namun berani mengambil skap atas setiap keputusan yang diberikan. Penulis yakini nilai restoratif yang dibawa oleh ketua KMIT UGM akan memberikan banyak perbaikan struktural maupun substansifitas sehingga kedepan KMIT UGM menjadi sebuah lembaga yang tidak kaku namun fleksibel dalam menghadapi setiap tantangan baik internal, eksternal bahkan isu sector pertanian secaara Nasional.

*Ditulis sebagai analisis permohonan prolog dari Platform Dwian Adi Dharmawan

**Mahasiswa  Ilmu Tanah Angkatan 2009 Universitas Gadjah Mada yang saat ini aktif di beberapa habitus dan lokus progressif di UGM baik Internal (Kadept. Hubungan Masyarakat KMIT UGM, Ketua Forum Studi Pertanian) , Ekternal (Korwil BEW III FOKUSHIMITI, Team 4 Angkatan 1 Citizen Journalism For Anti Coruption,  serta Kedaerahan (Penasehat Forum Alumni SMADA Wonosari, Penasehat A-KAR). Pernah terlibat dalam beberapa gerakan di BEM KM UGM 2010 hingga 2011 (Centrum Intelegensia Kebangsaan, Abu Vulkanic Respon, beberapa aliansi lain).

3 Comments Add yours

  1. arifmeftah says:

    bagaimana dengan keadaan jurusan lainyang ada di fakultas pertanian UGM?

    1. AnggaRiezky says:

      setiap himpunan memiliki stressing point permasalahan masing-masing, bisa jadi 2 point tersebut juga menjadi pembahasan di jurussan lain,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s