Bukan Asal Hidup


Tadi malam (24/5), ketika setelah beberapa jam mencorat-coret beberapa lembar kertas untuk ‘mencari’ inspirasi, tiba-tiba saya mulai melamun. Lamunanku menerawang hingga akhirnya beberapa menit saya dikagetkan dengan pertanyaan satu teman kosku.

“Ada apa?”

Sontak saya terkejut dan hanya tersenyum pucat memikirkan lamunanku. Sebenarnya bukan hal penting yang mengusik pikiranku, malah hal seperti ini sering sekali saya pikirkan.

Sebelum saya cerita lamunanku ini, suatu kali saya sering melakukan kegiatan nggak jelas. Maklum, kalau lagi banyak pikiran bawaanya kelayapan muterin kota Cuma ingin melihat mozaik dari kehidupan.

Kusempatkan berhenti di sebuah jembatan yang disana ada beberapa penjual yang telah menjajakan dagangannya. Entah karna iba atau memang sudah lapar, saya mencoba mendekati salah satu penjual yang sudah tua. Kubelikan beberapa uang kertas dengan segelas minuman. Saya mencoba menikmati minuman itu sambil sedikit berbicara denagn si penjual.

Kemudian beliau bercerita tentang anaknya yang sampai saat ini masih menganggur, waktu itu saya hanya mendengarkan keluh kesahnya dan sesekali menimpalinya dengan kata “ya”, “oh gitu ya kek” atau kata-kata yang memang tidak memberikan makna apapun.

Setelah selesai saya hanya tersenyum, kemudian ku senderkan tubuh ini di belakang besi jembatan. Sesekali kulihat beberapa kendaraan yang lalu lalang entah kemana tujuannya. Pikiranku kembali menerawang saat melihat deretan kendaraan itu.

Tanyaku dalam hati “Kenapa orang-orang ini begitu sibuknya memadati jalanan?”

Kemudian tanpa sadar saya pun menjawab sendiri, “ya,. Mereka pasti sedang bekerja”. Aneh dan saya pun hanya tersenyum, kemudian membalikan badan melihat dibawah jembatan. Sungai mengalir denagn tumpukan pasir. Aliranya kecil bahkan dibeberapa sudut airnya sudah kering. Kulihat beberapa anak sedang bermain bola disungai tersebut.

Lagi-lagi saya hanya tersenyum. Kulihat diagak kejauhan ada beberapa oarng sedang mengambil berkilo-kilo pasir. Ya, mungkin itu berkah untuk mereka.

Lama sekali saya melamun. Saya memikirkan tentang pekerjaan. Saya binggung untuk apa kita bekerja?

Dalam hati saya kemudian meneruskan pertanyaan ini.

“Untuk apa cari kerja?”, tanyaku dalam hati.

“Ya, untuk cari uang”

“Untuk apa cari uang?”

“ya, tentu untuk memenuhi kebutuhan dan agar bisa makan”

“Lalu, untuk apa makan?”

“Mungkin untuk cari uang lagi”

“Lantas kalau seperti itu untuk apa kita hidup?”

Hampir pusing ketika tiba-tiba saya mendengar bel beberapa kendaraan di perempatan itu. Saya berpikir ketika kita kerja hanya untuk cari uang kemudian bisa memenuhi kebutuhan atau sekedar makan lalu kerja lagi untuk mencari uang. Apa gunanya kita hidup?

Lalu, saya menampik semua pertanyaan itu, saya berpikir ulang bahwa saya tidak hanya ingin bekerja. Bahwa saya masih ingat banyak impian saya untuk kehidupan. Bukan sekedar uang. Saya mengetahui esensi hidup.

Lalu saya pulang, saya ingat terus bagaimana hari itu saya memikirkan tentang hidup. Dan malam ini saya memikirkan hal tersebut lagi. Jangan-jangan saya hidup hanya untuk bekerja?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s