Biru Atau Hitamkah Langit?


Malan ini (25/5) setelah beberapa kali saya harus mengulang membuat jadwal agenda yang mulai tidak beraturan. Saya mulai bergerak karena kepahaman saya walau merasa ilmu ini masih sangat kurang. Kututupkan beberapa lembar buku catatan. Lantas saya berpikir tentang beberapa status atau lontaran komentar dari beberapa media social yang saya ikuti.

Sering kali  ada beberapa perdebatan yang saya pun malas sebenarnya untuk mengikutinya. Malah seringnya berdebat muncul beberapa masalah baru bukan solusi.

Suasana malam ini cukup hening. Lama saya hanya terdiam, lebih tepatnya mencairkan otak yang mulai penuh dengan pikiran-pikiran yang acap kali acak dan tidak absolut. Saya kemudian mencoba untuk duduk di teras, kusandarkan tubuh ini kemudian pelan-pelan kurebahkan memandangi atap rumah. Saya yang sebenarnya ingin membaca beberapa buku kemudian terusik dengan langit malam ini. Kupandangi beberapa bintang yang seakan menjentikkan kisahnya, redup kemudian menghilang dan berkilat lagi.

Dalam hati “langit malam ini indah sekali”, tersadar bahwa mungkin saya yang suka detail jarang mengamati langit beberapa bulan terakhir. Baru-baru ini saya tahu, bahwa kebiasaan sahabat saya melamun diteras sambil melihat bintang atau langit malam (katanya) membuatnya sering dapat melupakan masalah sejenak.

Masalah?

Kalau menyinggung hal satu ini saya dan kebanyakan orang pasti mengalaminya. Bagaimana dengan masalah pribadi? Orang seringkali berubah sikap atau kepribadian yang begitu cepat. Saya percaya, mereka memiliki maksud. Orang jahat tiba-tiba baik walau tak tau pasti kebaikanya untuk kejahatan. Dan orang baik tiba-tiba berubah menjadi jahat.

Malam ini saya mengetahui sedikit kehidupan lewat ciptaan-Nya.

Saya berpikir mengapa langit malam tidak biru? Tapi hitam mencekam. Lalu saya berpikir “Kenapa ketika malam langit tidak biru, bukankah lebih indah. Sebenarnya langit itu berwarna hitam atau biru?”

Saya pun sulit menjawabnya. Kulihat lagi lebih detail. Dan kutemukan sedikit jawaban bahwa digelapnya warna langit di malam hari bukankah sering ada bintang. Lalu kenapaseingkali kita tidak merasa takut karena datangnya malam. Atau banyak orang memuja malam karena memberikan romantisme kehidupan.

Saya menemukan sedikit cerita dari langit. Bukankan begitu pula manusia. Selama manusia hidup, bukankah dia akan sering merubah sifatnya. Entah karena sebab atau karena lingkungannya. Yang jahat menjadi baik, yang baik menjadi jahat, yang banyak bicara tiba-tiba menjadi pendiam, yang salah tiba-tiba bisa berbuat benar. Tapi semua berhenti ketika mereka mati, barulah kita bisa menyebutnya baik dan buruk terhadap sifatnya.

Yang perlu kita lakukan adalah memberi kesempatan bukanmeninggalkan dengan keterpurukan. Itulah manusia yang bijaksana.

Dikeheningan malam, kumulai menutup mata, kututup buku di atas muka dan tersadar ketika panggilan-panggilan itu menyentuh hatiku. Dalam kedamaian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s