Departures


Directed by Yojiro Takita. Written by Kundo Koyama. Produced by Toshiaki Nakazawa. Starring by Masahiro Motoki, Ryoko Hirosue, Tsutomu Yamazaki.

Film ini berasa sangat manis walaupun bercerita tentang seorang pengurus jenazah. Masahiro Motoki memainkan perannya sebagai seorang pengurus jenazah, bernama Daigo Kobayashi, dengan sangat apik dan professional. Ekspresi wajah dan keseriusannya kadang mengundang tawa tersendiri, tawa dibalik kematian.

Seperti saat Masahiro mengurus jenazah seorang wanita yang tampak cantik. Ketika membasuh jenazah tersebut, dia menemukan ‘a thing’ down there. Ternyata jenazah itu laki-laki yang meninggal sebagai seorang cewek. Ekspresi Masahiro tetap serius dan mengernyit bingung, tapi bagian cerita itu menjadi komedi satir yang menghibur, tanpa Masahiro harus menampilkan lelucon yang dibuat-buat.

Ceritanya pun dirangkai dengan sangat lembut dan hati-hati, sama seperti bagaimana sang pengurus jenazah tersebut biasa mengurus jenazah dengan penuh ketelitian, kelembutan, dan sangat personal.

Waktu kecil ayah Daigo meninggalkan Daigo kecil dan ibunya, lari bersama seorang wanita lain. Daigo beranjak besar, dan bahkan ketika ibunya meninggal, Daigo sedang berada di luar negeri. Daigo setelah menikah menjadi seorang pemain cello, namun ketika orkestranya bubar, ia pindah ke desa dan rumah ibunya. Saat Daigo membutuhkan pekerjaan, sebuah lowongan pekerjaan terpampang di sebuah koran.

Seperti sudah ditakdirkan, Daigo pun akhirnya menjadi seorang pengurus jenazah. Dilema tentang kematian itu sendiri, permintaan istrinya untuk keluar dari pekerjaan itu dan bahkan cercaan orang yang mengatakan bahwa ia mencari nafkah dari kematian sempat membuatnya berpikir untuk meninggalkan profesi ini. Namun, melihat senyum terimakasih dari para keluarga yang ditinggalkan, dan juga keinginannya untuk menebus rasa bersalahnya pada sang ibu yang tak dirawatnya dahulu, Daigo akhirnya mantap untuk meneruskan pekerjaan itu. Hingga akhirnya, ia mendapat kabar tentang kematian ayahnya dan ia pun merawat jenazah ayahnya yang telah bertahun-tahun meninggalkannya.

Bagian cerita mengenai Daigo yang pernah menjadi pemain cello pun menjadi pelengkap cerita yang manis ketika di titik-titik tertentu dalam cerita, Daigo memainkan cellonya. Sehingga scoring film ini tidak terdengar seperti musik yang disatukan dalam cerita, tapi ada dan menjadi bagian dalam film itu sendiri.

Daigo sangat menghargai profesi ini. Ia selalu tak lupa membubuhkan sentuhan personal yang melekat dalam diri tiap jenazah, entah itu syal yang selalu dipakainya ataupun lipstick favoritnya. Sisi filosofis dalam pekerjaan ini adalah ‘making someone died beautifully’.

Sisi filosofis secara keseluruhan cerita adalah bahwa semua makhluk hidup selalu ingin kembali ke tempat dimana ia dilahirkan. Dan kematian itu seperti memiliki sebuah gerbang tersendiri, dimana orang yang meninggal, bukan menjadi tiada, tapi pergi ke suatu tempat.

Film ini memang sangat manis berbalutkan budaya dan perasaan-perasaan manusiawi disaat kita dihadapkan pada kematian. You should watch this movie, guys!

For me, cerita ini benar-benar memberi sudut pandang yang unik dari sebuah kematian. Kematian tak selamanya membawa kesunyian dan kesedihan. Ada sebuah prosesi tersendiri dalam hati kita masing-masing untuk menyambut kematian. Sama seperti ketika kita menyambut kelahiran. Dan ketika kita menghayatinya, kematian bisa membuat kita tersenyum.

Tersenyum untuk merasakan kebahagiaan bahwa kita pernah mengenal seseorang itu, kesempatan untuk memberi penghormatan terakhir, kerelaan untuk menjadi yang ditinggalkan, dan untuk momen kematian itu sendiri yang mengajari kita untuk mengenal kematian sebelum kita sendiri berada di sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s