Dua Bidadari Kecilku ‘Cinta, Hati dan Hidupku’


Apa yang membuatku lebih keras menjalani hidup? Menjadi orang yang ambisius? Berani mengambil resiko besar? Tak lain karena dua bidadari kecilku yang selalu berhasil melesatkan semnagat untuk menjalaninya. Merekalah dua adik perempuanku. Penuntun jalan yang mengantarkanku pada pilihan-pilihan luar biasa yang kadang tak pernah saya pikirkan sebelumnya. Merekalah yang membuatku berani memutuskan sesuatu. Hingga akhirnya saya merasa menjadi pribadi yang besar, merasa ‘kaya’ dan berlimpah ‘harta’.

Saya sering berpikir, jika tanpa mereka mungkin tak pernah bisa saya menjalani nasib busuk dari keluarga pinggiran ini. Merekalah yang mampu membesarkan hati untuk menerima semuanya dengan lapang dada. Alasan terakhir saya untuk hidup lebih lama karena ingin melihatnya tak pernah merasakan hari-hari yang sering mencengkram setiap batin yang terbuai oleh fatamorgana kehidupan.

Setelah pulangnya adikku di tempat terindah. Adikku yang matanya selalu memancarkan ketulusan. Adik nomor satu yang membanggakan. Dia menjelma dengan kedatangan adik keduaku. Seorang bidadari kecil dengan senyum sederhana yang mendamaikan. Dialah penyala lilin yang selama ini padam. Dialah yang mulai memberiku semangat untuk memberikan yang terbaik.

Dia yang kini telah duduk disekolah dasar adalah anugerah terindah. Saya melihat masa kecilku didirinya. Semangat, kesederhanaan, keihklasan bahkan kemandirian mengalir didirinya. Entah, saya menularakanya atau nasib ini yang telah mengajarinya untuk tunduk pada kehidupan.

Saya ingat pertama kali dia mengikuti perlombaan. Saya tak pernah melihatnya takut menghadapi tantangan. Sejatinya, keberaniannya yang telah menularkan kepada diriku ketika mengahdapi situasi tersulitpun.  Itulah kali pertama lomba puisi yang dia ikuti, gaya intonasinya begitu alami. Jelas darah seni mengalir diseluruh keluarga seniman ini. Dia telah mampu merengut sedikit prestasi gemilang yang membuatku bangga memilikinya. Sejak kecil, setiap dari kami harus mampu berseni, melenggokan badan, bermain musik karawitan sampai musik modern, menembangkan lagu jawa, merias dan memainkan jemari menguas sebuah gambaran. Ini adalah bakat keluarga kami.

Tumbuh bersama nenek adalah masa laluku yang kini dialami adiku ini. Dia, yang tak pernah mengeluh untuk bertemu orangtua, dia yang tak pernah meminta banyak hal seperti melihat kedalam cermin masalaluku. Dailah adiku yang selalu mampu mengingatkan setiap langkah yang akan saya ambil.

Saya jarang mengajaknya berbicara, tapi saya begitu menyayanginya. Saya sungguh menyayanginya dengan ungkapan yang sederhana. Saya pun merasa dia mengerti betul apa yang saya rasakan. Dia yang hanya diam mengikuti jalan yang telah saya tempuh, semoga membuatnya lebih cemerlang dari kakaknya ini.

Bidadari terakhir menjadikan kado istimewa dalam hidup yang saya jalani. Tahu depan dia akan memasuki taman kanak-kanak.Dia termasuk anak yang cerdas, sejak usia 3 tahun, tuturnya cukup lancar. Bidadari ini cukup  periang. Satu yang membuat saya melihat diriku dalam dirinya, kita ditakdirkan dengan kelemahan yang sama. Entah, saya mulai getir ketika melihatnya melalui hari-hari itu.  Saya tau persis bagaimana merasakan maut selalu megintai dari belakang. Tanpa berucap kata, kapanpun bisa menyerang tubuh mungil ini.

Tumbuh bersama dua orang biadadri kecil ini sungguh melengkapi hidupku, membuatnya menjadi nasib penuh berkah. Dengannya, telah kutancapkan mimpi-mimpi untuk mereka. Untuk tangan-tangan mungil yang mulai tumbuh menjadi perempuan-perempuan canti dengan kesederhanaan. Secepatnya, saya ingin mengeluarkannya dari lingkaran setan, memilihkan dadu paling baik untuk mengantarkannya pada garis finish.

Kini, belum dapat kuberikan kado terbaik untuk mereka. Tulisan ini sekaligfus menjadi sebuah janji terhadap hidup, bahkan alam yang akan mengantarkanku menjalani nasib busuk ini. Lihatlah abangmu akan berjuang mati-matian untuk kalian. Hanya untuk kalian bidadai kecil yang mulai mengepakkan sayap-sayap kecilnya menuju langit biru. Menghempas putihnya awan memberikan tetesan air hujan sumber kehidupan. Dan saat selesai hujan tersebut, lihatlah pelangi telah menjemput kalian untuk merasakan hangatnya sang mentari.

Disanalah, ada dongeng tentang kerajaan pelangi dimana disetiap ujungnya terdapat cawan besar berisi kekayaan kehidupan. Tak sedikitpun hati ini membuatk kalian mencarinya sendiri. Saya ingin mencoba menuntun kalian menemukannya. Karena kalian, cinta, hati dan hidupku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s