Menjemput Senja Terakhir


Sore itu, setelah perjalanan panjang menembus masa lalu. Aku menenumakn sebuah mozaik yang terpecah karena keangkuhan diri. Ku jalani sebuah jalan setapak yang mengantarkanku ke sawah, jalan ini mulai begitu asing. Entah, jalan ini sudah mengantarkan berapa keceriaan pada anak-anak sawah. Jalan ini yang memberikannya napas kehidupan.

Sinar senja itu begitu berbeda. Warna orange, kuning emas dan putih semburat berpadu memberikan kilatan dan kehangatan di sore itu. Kupegang beberapa ilalang yang mulai meninggi disisi kiri jalan, Aku merasakan masa lalu menancap setiap daun yang sedikit kasar ini. Merasakannya memberikan rasa getir yang tak terlupakan. Hingga akhirnya langkahku terhenti di sebuah gubuk yang memberikan banyak kenangan masa lalu.

Kubuka sebuah buku M. Scott Peck, sambil merasakan angin yang menghempas hamparan sawah itu. Hijau kemuning dengan sesekali terdengar kicauan burung yang mencari sisa kehidupan. Disini Aku mulai melihat masa lalu, berdamai dengan alam merasakan ketulusan alam.

Kehidupan yang diabadikan secara total mengantarkanku pada sebuah peta realitas masa lalu. Aku mulai beranikan mengkritik setiap jengkal peta tersebut, mengeluhkan banyak hal karena ketidak akuratannya memberiku arah dalam hidup. Aku yang mulai mengutuk diriku sendiri merasakan udara yang mulai membusuk dalam keterbatasan dan semakin, semakin tunduk pada angan-angan, bualan tanpa tanggungjawab.

Pikiranku mulai melayang pada setiap sudut sawah ini. Disinilah Aku dibesarkan bersama seluruh keponakan. Sore betul, neneklah yang menjebakku untuk selalu merasakan aktivitas orang pinggiran. Namun apa yang bisa dilakukan anak-anak iblis ini selain bermain dan membuat keonaran. Inilah ceritaku dan saudara-saudaraku.

Salah satu saudaraku, anak dari Bibilah yang sering memulai keonaran ini. Mulai dari membuat suara dari daun-daun ilalang, mencari ikan-ikan busuk di pinggiran sawah atau melempar tanah bercampur dengan kotoran-kotoran dari sawah bahkan menyelami dangkalnya air sawah hanya untuk menyenangkan diri. Tapi, dialah yang mampu merubah nasib busuk menjadi menyenangkan.

Dialah kakaku, yang peragainya periang. Dialah yang  jarang berjumpa dengan Ayahnya. Dialah yang sering memberiku semangat perjuangan. Ayahnya perantau yang saat ini tinggal di Sumatera, pemilik sebuah perkebunan disana. Ayahnyalah yang menularkan kepadanya sebuah perjuangan bahkan menularkan kepadaku untuk bermimpi. Bermimpi tentang Sumatera.

Dengan hadirnya Kakakku ini, masa kecil kami diselubungi dengan mimpi. Dialah pembual kelas kakap, pemain penuh stategi dan tak ingin pernah dikalahkan. Bahkan pertempuran kami berlanjut hingga bangku-bangku sekolah. Kami selalu ingin menunjukan yang terbaik. Disinilah aku mulai menyemai mimpi-mimpi kecil. Laki-laki itulah penyebabnya. Dialah yang menularkan semua ini, menjerumuskanku dalam keadaan yang tak pernah terpikirkan.

Kini, nasibnya tak seberuntung diriku. Dia hanya menyelesaikan SMAnya dan harus segera meneruskan hidup di Bali kawan. Aku selalu berpikir, dialah anak cerdas dari garis keturunan keluarga kami, hanya saja dia tak pernah berhasil menentukan arah yang tepat. Akhirnya, keberuntungan menjadi miliku. Kini kita sama dewasa, tak pernah terbesit untuk mengungkapkan pertarungan kala itu. Akupun berpikir, dialah pemenangnya. Dialah yang telah berhasil memenangkan pertarungan kami, dia yang kini bisa membuat tersenyum kepada keluarga kami. Sedangkan diriku, terpojok oleh nasib ini, berparodi menertawakan diri sendiri. Akulah yang sebenarnya sedang kalah. Namun nasib busuk ini kupastikan mengantarkanku pada sebuah jalan yang dulu sering kita impikan.

Suara burung itu memecah lamunanku, tersenyum lama kudibuatnya. Kulihat matahari senja mulai berakhir. Mengakhiri peraduan hari ini. Namun kupastikan bahwa besok, sinarnya akan menjelajahi dunia. Menjelajahi setiap jengkal peta realitas yang akan terukir semakin manis. Aku akan mencoba menjemput senja-senja terakhir di tahun-tahun berikutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s