Ajariku Hal-hal yang Menyakitkan


Benjamin Franklin pernah mengungkapkan hal tersebut. Catatan ini hanya sebuah rangkuman perjalanan hidup. Sadar atau tidak, sebagian besar orang akan mengatakan hidup itu sulit. Saya menganggap hal itu sebuah kebenaran terbesar.  Dua hal terbesar yang menyelimutinya adalah masalah dan rasa sakit. Sayapun menyadari dua hal itu, malah semakin saya sadar semakin saya tau ada hal luarbiasa dari dua kata tersebut. Saya ingat bahwa setiap hal yang terjadi dalam hidup, entah sakit yang luar biasa, masalah yang pelik atau bahkan penyesalan yang menghantui, saya yakin bahwa semua itu ada untuk membantu saya tetap tumbuh.

Kawan, pernahkah kita menyadari bahwa mengakui ada masalah dalam hidup kita maka sebenarnya kita telah bisa mengatasi kesulitan itu. Saya merasa kadang yang menjadikan fakta tersebut karena saya selalu memikirkannya. Saya memikirkan hidup itu sulit, hingga membusuk dalam kotak kesulitan yang sejatinya kita sudah menyadarinya. Sehingga saya sendiri sering mendapati diri saya hampir selalu mengeluh secara tertutup. Saya merasa seolah-olah hidup itu biasanya mudah, seolah-olah hidup itu seharusnya mudah.

Nyatanya, saya mendapatkan sisi lain diri bahwa masalahlah yang mengantarkan saya pada serangkaian kegiatan yang akhirnya membahagiakan.

Determinasi mungkin, atau sebuah kebetulan. Tapi saya yakin bahwa masalahlah yang megantarkan pada sebuah perasaan bahagia. Bagaimana jika tidak ada masalah? Bisakah kita merasakan kebahagiaan? Atau membedakan antara keberhasilan dan kegagalan?

Sejatinya, saya mulai mengerti bahwa masalah menimbulkan keberanian dan kebijaksanaan. Akhir-akhir ini saya sering tersenyum, karena selama lebih dari tahun-tahun yang saya alami, saya berharap bisa memerangi masalah. Naytanya itu bualan belaka. Saya menemukan diri yang harusnya berdamai dengan masalah.

Analogi singkat yang serng saya gunakan ketika saya sedang dihadapi masalah hingga akhirnya saya tersenyum sendiri. Saya selalu ingin mengajak masalah memahami saya, seperti “hay masalah, bagaimana kabarmu?” pikirku. Denagn begitu saya merasa bahwa masalah harus dilawan denagn perdamaian. Mengajaknya menyelami perdamaian pula. Haha, Saya berpikir bahwa masalah itu sendiri sudah memiliki masalah, bagaimana mereka bisa kita lawan ketika mereka saja mengalami masalah. Bukankah menjadi sahabatnya adalah keputusan bijak? Mengerti situasinya dan bersama-sama memecahkan masalah. This is about Mind.

Satu kesalahan yang sering saya sadari yaitu menghindari masalah. Saya menunda, berharap bahwa masalah itu akan hilang. Saya megabaikan masalah, melupakan masalah, dan berpura-pura tidak ada masalah. Saya lebih memilih menghindari masalah bukan menghadapinya secara langsung. Saya lebih berusaha lari dari masalah, daripada mengalami penderitaan yang diakibatkan oleh masalah. Tapi, itu dulu kawan.

Berdamai dengan masalah adalah jalan terbaik. Bukankah melawan sama saja menyakiti diri sendiri?

2 Comments Add yours

  1. iboymuharram says:

    menarik ki, tentang bersahabat dengan masalah memang tidak semua orang memahaminya sebagai hal positif dan bisa dilakukan..

    ada pandangan yang lebih ekstrim dari sekedar menjadikan masalah sebagai sahabat, dengan mengatakan ; “wahai masalah, Tuhanku Maha Besar dan Maha Kuasa atas segala sesuatu, engkau bukan apa2”

    selamat berjibaku mengakrabkan diri dengan masalah🙂
    baarakallaahu fiik

    1. AnggaRiezky says:

      hehe,. trmksh mas. lbh menarik pernyataan mas iqbal,. wah, harusnya saya belajr filsafat lebih giat, knpa bnyk yg tak terpikirkan,. hehe

      syukron mas,. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s