Puncak Gunung Api Purba ‘Keindahan Kebersamaan, Keindahan Jiwa’


 Malam itu, dia akhirnya menjemputku dengan nada tersengal-sengal. Ini adalah musim dingin kala itu, di jagad alam, dunia semakin dingin, namun entah angin itu lebih seperti membelaiku. Sungguh menyegarkan  hati.

Ini hanyalah kisah malam terakhir setelah perjalanan panjang yang telah kita lalui dengan orang-orang hebat yang membersamaiku. Malam ini sama seperti malam sebelumnya. Rumahku ini sepi tak berpenghuni, hanya saya, nenek dan menyisakan kenangan disudut-sudutnya. Saya melihatnya menggunakan jaket biru itu, motornya yang biru menguatkan metamorfosis alam. Saya melihat alam didirinya.

Perjalanan panjang menuju Gunung Api Purba malam ini begitu syahdu. Entah karena ini malam perpisahan kami sebelum memasuki dunia baru, dunia yang akan menantang kita, memberikan euforia atau bahkan menyayat hati. Yang jelas saya tak sabar menantinya.

Saya bukanlah penikmat gemerlap lampu kota, atau ratusan orang yang berbondong-bondong ke Mall atau tempat hiburan yang menyuguhkan permainan pemuas jiwa, tetapi jiwaku akan terpuaskan dengan gemerlap jutaan bintang yang tersapu aurora, tingginya gunung yang menyapa alam, luasnya laut yang menguyurkan ombak kesederhanaan tanpa keangkuhan, atau lebatnya hutan yang menunjukan kedamaian kebersamaan. Seluruhnya menyatu bagaikan meditasi kehidupan. Kesunyian yang mendamaikan, selalu ada lamunan disana.

Gunung Api purba menjadi salah satu perjalanan spiritual pada masa itu. Di sana telah kutancapkan banyak ketentraman jiwa, kulepaskan seluruh luka hati dan kuberanikan untuk membuka lembaran baru dengan tuntunan alam. Merekalah yang mendewasakan jiwaku.

Terengah-engah menaiki Api Purba, tersengkal mencari udara yang begitu banyak seketika terhapus ketika ku injakkan kaki di puncaknya. Malam itu begitu sempurna, udara yang dingin bisa menembus jantung siapa saja, namun bukan untuk mencekiknya, hanya sebuah sentuhan lembut dari alam yang mulai menyapa kehadiran kami. Sebuah keadaan yang misterius, yang memasuki jiwa tanpa disadari. Saya mulai terbebas, Saya merasa alam. Saya merasa semua segel hatiku terbuka. Mungkin seluruh kawanku pula.

Kami hanya termenung menghabiskan malam ini. Malam yang membebaskan jiwa pemuda yang merindukan peraduan. Saya duduk diatas bongkahan batu besar menghadap juramnya tebing berlatar luasnya alam beratapkan jutaan gemintang yang mengoda. Syahdu.

“Ini perjalanan yang luar biasa, saya sering melihat kesombongan dunia, tapi mereka yang sombong harus malu dengan alam ini, engkau begitu sederhana, begitu mengikat hati”, pikirku dalam hati. Kawanku mulai menyalakan api unggun, tiupan angin menebarkan sedikit kehangatan dari apinya. Romantisme pun terbangun nyata. Hanya beberapa makanan dan sebotol kopi hangat yang kami nikmati. Hanya saya yang tak menikmatinya, saya hanya mencoba berdamai dengan air putih.

Dari puncak Api Purba, tak akan ada yang berani meninggalkan malam. Hampir semua dari kami terjaga untuk menantikan sesuatu. Entahlah, yang saya yakini hanya jangan menutupkan mata untuk malam ini. Sekelebat pikiranku mulai melayang, entah itu hanya ilusi tapi saya merasakannya. Nyata, misterius dan menghangatkan tubuh. Saya melihat masa depan, begitu dekat dan semakin jelas. Sekelebat mata saya melihat masa lalu, rumah kecilku, jalan berbatu, sekolahku hingga semuanya meledak bersama bintang-bintang. Pikirku, biarlah semua kenangan dan gundah tersimpan rapi dihatiku, karena saya ingin menikmati malam ini hanya dengan alam.

Pagi memutar roda kehidupan menyajikan melankoli yang mendalam. Siluet yang mulai menyinari bumi terjatuh diantara sela-sela daun yang mulai mekar. Udara mulai terasa segar, orkestra alam pun mulai berbunyi ditemani kicauan burung dan gesekan angin yang terhempas dibalik pohon-pohon menyajikan harmoni kehidupan. Saya merasakan opera alam telah bersenandung. Ini saatnya kita menikmatinya dengan damai.

Serasa kami menginjak seluruh alam, berjalan menyusurinya. Tapi Api Purba bukanlah negeri diatas awan, dialah kenyataan yang paling indah. Dengan anggunnya, dia menghempas setiap awan. Merasakan setiap gempulan kabut, saya merasakan sebuah masa depan. Namun saya tak tau kemana masa depan ini akan membawaku? Awan itu terlalu asing dengan geraknya. Siapa pula yang tahu? Yang saya yakini, saya ingin melangkah maju.

Bersama mereka, saya menantang dunia. Kebersamaan ini entah kapan akan terulang kembali. Hanya keyakinan bahwa kisah ini akan tersimpan manis dan selalu saya bawa mengitari kehidupan. Dan ketika kita bertemu, semoga kita telah saling menggenggam dunia, menaklukan setiap jengkalnya. ‘Keindahan Kebersamaan, Keindahan Jiwa’

 

Terimakasih pahlawan, sahabat dan hati yang berlayar bersamaku!

4 Comments Add yours

  1. nice memory..🙂

    1. AnggaRiezky says:

      thanks mas,. just share how beautifull life,.

  2. Dyah ayu says:

    puncak api purba, nice.🙂

    1. AnggaRiezky says:

      ciee,. dyah ikut2an hanim galau,. hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s