Kerajaan Malam


“Saya menyimpan beberapa rahasia besar dan hanya pada malam yang sepi dan panjang, saya bisa membebaskan mereka”

Mulutku mulai terpenggal disepanjang hari, kerongkonganku mengering menambah luka batin yang mendalam, dan hanya pada malam semua bagaikan euforia awal tahun. Hanya pada sepertiga malam terakhirlah saya mulai bebas. Di tengah hamparan bintang, di antara belaian udara malam dan sambutan sahabat kecil yang tak kunjung berhenti memainkan orkestra kehidupan. Saya mengadu pada nasib.

Hitamnya malam dengan siulet terang cahaya bulan menambah dramatis setiap malamnya. Ini adalah pertengahan tahun yang telah saya lalui dengan banyaknya dilema kehidupan. Dan hanya padamulah malam, di Kerajaan Malam tak bertuan saya bertutur.

Setelah lama dibungkam oleh teriknya matahari sepanjang tahun, saya mulai sadar dan menyesali hidup. Saya yang hanya terdiri dari partikel yang membentuk nyawa, bahkan jiwaku lebih kecil dari bintang yang setiap kali gemerlap bagaikan ilusi penyambut ketidakwarasan diri. Membawa yang dimabuk kehidupan menuju kedalaman yang tak terkira. Saya mulai mati di kehidupan saya. Namun sekali lagi, hanya kerajaan malam yang sanggup menyentuh nurani paling dalam, untuk tetap hidup untuk merasakan kekejaman hidup.

Ingatanku terkenang mendengar sebuah bait lagu yang membuatkanku sebuah tempat tersendiri dalam kehidupan. Ini hanya kisah tentang perjalanan panjang menguras hati. Saya sadar apa yang saya lakukan hari ini bukan hanya sebatas mimpi yang sempat terajut beberapa tahun lalu. Saya ingat betul, di ruang kos berukuran 2×3 meter, dengan sebuah jendela yang tidak ada tutupnya, sehingga senyumnya bulan pun berhasil mengantarkanku melewati malam-malam kelabu dengan kesederhanaan. Di tempat itulah saya mengukir sebuah janji-janji hingga hari ini, saya mencoba membuka lagi catatan-catatan itu. Terkuras habis getir hati  ini membacanya. Betapa lugu saya menuliskannya. Entah siapa yang mengajariku menuliskan impian itu. Yang saya tau hanya keberanian. Saya yang dari sudut kota mengembara.

Terbangun setiap jarum jam menengadahkan tangannya adalah kebiasaan rutin. Di keheningan malam, ketika setiap orang mulai beranjak tidur. Saya mulai bangun untuk memuja malam. Membasuh kening, menyeka seluruh muka hingga kaki. Merasakan malam yang lebih indah dari lingkaran pelangi. Di waktu itulah saya berbicara pada penuasa alam.

Hari ini saya takut kepada bagian diri ini. Saya takut mereka akan mengadili ketidak bersyukurnya diri ini. Saya takut sendiri tanpa mereka. Saya takut telah gagal merajutnya. Dengan getir, saya membaca catatanku yang mulai kusam dimakan zaman.

Beberapa bulan ini saya menjadi orang asing. Bahkan saya hampir lupa siapa saya. Saya lupa dengan kenangan saya, saya  lupa dengan impian saya, bahkan saya lupa pada kejahatan hidup yang memberikan saya semangat untuk menjalankan roda kehidupan. Saya mulai terlena.

Hari ini, kubisikan kepada kerajaan malam, hanya dengan lirih. Dengan ketakutan dan penolakan. Namun hanya kepadamu saya mengadu. Izinkan saya mencobanya lagi. Lebih dari saya mengenal diri ini. Lebih dari saya mengenal hati ini. Lebih dari yang engkau tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s