Forever In My Heart, For ever


Lubang hitam yang sampai hari ini belum bisa tertutup dengan baik, selalu saja hanjur keropos menyajikan kedalaman yang menganga. Itu adalah masa laluku bersamanya. Adiku yang telah tidur selamanya.

Dulu, ini hanyalah ingatan tentang masa lalu. Bahkan saya pun tak yakin ingat tentang kisah ini. Serasa saya hanya sedang terbuai oleh mimpi manis. Tersesat.

Ketika saya mulai berumur 9 tahun. Barulah saya memiliki seorang adik. Setelah sekian lama saya sendiri tanpa ada yang menyadarkan saya akan kedewasaan. Dialah yang kemudian memberikan arti hidup yang sesungguhnya. Siang itu, setelah pulang dari sekolah. Saya harus bergegas berjalan kaki menuju rumah nenek. Untuk pertama kalinya saya ingin melihat kehadiran seorang adik. Bergegas hingga kebiasaan lama tidak memakai alas kaki pun mengantarkan saya menyusuri jalan berbatu lebih dari 10 km menuju sebuah desa di kaki bukit. Ya, dulu, saya biasa kerumah nenek sendiri dengan jalan kaki. Hingga sering, ketika saya sampai disana. Muka lusuh karena debu yang bertebaran menjadi senyum pertama yang saya suguhkan untuk mereka. Dulu. Kemudian mereka memeluku seakan saya adalah harapan terakhir bagi mereka.

Ini bukan cerita tentang saya. Tapi inilah ceita belahan jiwaku yang terhempas ditelan bumi. Dialah Adiku, Anggi. Seorang lelaki kecil dengan sejuta aktivitas. Sesampai disana, saya sedikitpun tak berani menyentuhnya. Dialah, si munggil, kecil, memiliki rambut tipis, bibirnya yang tipis dengan mata sipit dan memancarkan mata kepolosan. Daialah harapan kedua keluarga kami.

Betapa bahagia memilikinya. Ketika pulang dari sekolah, hanya dia yang ingin saya lihat. Saya ingin melihatnya berbicara, melihatnya menumpahkan makanan atau air di bajuku. Melihatnya menapaki lantai yang sesekali terjatuh tanpa menangis. Hanya karena dia. Saya bagaikan mendapatkan semngat untuk hidup. Ketika satu tahun sebelum dia akan masuk ke Taman Kanak-kanak, dia mulai tidur dengan saya. Tidak ada yang lebih menjengkelkan selain melihatnya mulai mencorat-coret buku pelajarnku. Sering kesal betul hingga terlontar kata-kata yang menurutku membuatnya sakit hati. “Baiklah malam ini tidur dengan Ayah Ibu sana”, atau “Kalau tidak mau berhenti, jangan harap besok main sama Kakak”. Entahlah, pikirku dulu, itu akan membuatnya berhenti.

Adikku yang hatinya seputih salju. Yang matanya memancarkan kepolosan. Dia begitu menyukai Kuda Lumping, sebuah pementasan tarian yang sering diadakan di desaku. Sering saya tertawa ketika melihatnya menirukan salah satu pemain. Menggoyang-goyangkan badan, meliukan tangan, berjingkrak-jingkrak sambil sesekali mengerang persis seperti pemain aslinya. Salah satu kenakalan yang saya sukai dari dia adalah ketika dia menirukan saya ketika melakukan sesuatu. Entah ketika membersihkan rumah, menyanyi atau bahkan membaca buku. Dia pun menirukan dengan nada terbata-bata. Dialah yang mengajari saya tentang senyuman.

Adikku ini pekerja keras. Walaupun dia belum duduk di bangku sekolah, dia senang betul membantu tetangga kami. Seorang penjajak warung Minuman. Dia sering membantu beliau membawakan air cucian yang embernya lebih besar dari tubuhnya, yang hanya diisi air seperempat saja. Namun saya sering melihatnya senang melakukan hal itu. Atau kadang-kadang, selepas dia bermain dirumah. Dia sontak akan berlari menuju warung tersebut sambil berteriak memekikan telinga. Apa yang dia lakukan, dia ingin membantu tetangga saya untuk membelikan kelapa untuk santan seperti biasanya. Dialah adikku, yang dalam tubuh munggilnya, saya belajar kerja keras dan ketulusan.

Tidak banyak hal yang kami lalui bersama selain bermain bersama di ruang tamu atau sesekali mengajaknya bermain disungai atau di sawah. Nyatanya, dia begitu senang dengan hal-hal tersebut. Dari situlah saya belajar bersyukur akan kesederhanaan. Dialah adikku, yang tanpa ucapannya telah menularkan banyak ilmu kehidupan. Dialah adikku yang selalu ingin saya peluk.

Waktu itu adalah malam terakhir yang mengubah hidupku menjadi malam bersegel. Membakar hati saya menjadi abu dan hanya meninggalkan kenangan pilu. Ini adalah malam ketika dia menggangguku ketika esok saya harus melakukan presentasi sebuah rumus bidang. Saya ingin mendapatkan nilai sempurna. Namun disela saya menghapalkan beberapa rumus yang memekik kepalaku ini. Dia kemudian menyobek beberapa buku pelajaranku. Sontak saya marah, geram melihatnya hingga terlontar sebuah kata dari mulut iblis penuh dosa, “Oh bocah, apa-apaan ini?” sahutku sambil berjalan keruang tamu mengadu kepada orangtua.

“Mulai malam ini saya tidak ingin tidur dengannya, saya ingin tidur sendiri, saya ingin belajar dan tidak ingin diganggu, terserah Ibu setuju atau tidak saya tidak mau lagi tidur dengannya”. Adiku yang tubuhnya menggigil disamping pintu kamar hanya melihatku dengan mata nanar, kulewati tubuhnya untuk mengambil sebuah buku pelajaran dikamar dan kuniatkan belajar dirumah nenek disamping rumah. Saat saya mulai keluar dari kamar, samar saya mendengar suara seerak yang bergetar, “Maaf”. Itulah kali pertama saya mendengarnya mengucapkan kata maaf, ucapan dari mulut tak berdosa, ucapan dari kesalahan yang tak disengaja. Namun hatiku yang telah hitam meninggalkannya, sendiri, selamanya.

Saya masih melihat Ibu mulai mengendongnya, mengantarkannya tidur. Saya tak berpikir malam itu saya menyesali perbuatannya. Malam itupun adalah malam dimana Ayah akan berangkat kerja ke Jakarta, untuk membantu seorang saudara membuat rumah baru. Hingga pagi hari, saya yang tidak melihatnya dikamar lantas bergegas ke sekolah. Berjalan 2 km dari rumah untuk menuju International High School. Di desa ini tak pernah terbayang akan ada sekolah bertaraf international, waktu itu.

Saya yang berangkat pagi betul hingga lupa mengucapkan ucapan selamat jalan untuk Ayah bahkan saya lupa mengucapkan salam untuk pergi kesekolah. Saya yang telah tertutup awan gelap.

Jam 1 siang adalah waktu yang saya tunggu-tunggu. Saya sangat siap untuk menghafalkan di depan kelas seluruh rumus bangun hingga akhirnya saya benar-benar mendapatkan nilai sempurna. Inilah jam terakhir pelajaran, saya pun bergegas pulang dan melakukan kebiasaan bermain dengan adiku. Saya telah lupa bahwa malam itu dia telah melakukan keselahan, saya pun telah benar-benar memaafkannya.  Ketika saya melewati pintu gerbang, saya melihat paman melambaikan tangan dengan senyum yang tertahan. Paman mengajak saya pulang bersama. Saya heran karena setelah saya setahun duduk di sekolah ini, ini kali pertama saya dijemput, bahkan Ayahku pun belum pernah melakukannya. Di jalan yang hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk sampai rumah dengan motor, pamanpun mengucapkan sebuah kalimat, “Jangan kawatir ya, semua baik-baik saja”

Dibelokan gang jalan raya, belokan menuju rumah kecilku. Saya melihat sebuah goresan jalan yang melebar, mengalir sebuah warna merah dan beberapa ada krikil yang berserakan di jalan. Jatung saya pun berdetak kencang. Saya pikir telah terjadi sesuatu. Tapi apa? Siapa?

Dirumah telah penuh sesak banyak orang, saya pun disambut oleh nenek sambil memeluku kencang, bahkan saking kencangnya saya merasakan jantungnya berdetak, tanganya bergetar dan air matanya mengalir membasari seragam di pundak sebelah kiriku. Saya pun tak bisa berkata-kata, sedikitpun tak kuucapkan kata. Bahkan diketidaktahuanku ini, saya merasakan ada yang hilang.

Dengan erat nenek menggandengku memasuki rumah. Saya melihat Ayah duduk dipojok dengan mata merah, hanya diam tanpa suara. Ditemani beberapa kerabat laki-laki. Sedang Ibuku, dia berteriak keras, sekitar sepuluhan kerabat perempuanku beberapa kali mengucapkan kata “Sadar”, “Ingat keluarga”, “Istigfar” atau hal semacamnya. Teriakannya yang keras benar-benar membuat keruh hatiku, meretakkannya dan membiarkanya hancur berkeping-keping. Yang saya dengar dari mulutnya hanya nama adikku, beliau berkali-kali menyebutnya. Hanya namanya, Adikku.

Saya pun langsung menjatuhkan diri di samping pintu, saya tau apa yang terjadi dengan jalan itu, saya tau luka orangtuaku, saya tau ada yang hilang. Hingga akhirnya suara sirine menghantam hatiku, suaranya bagaikan malaikat pencabut nyawa. Hanya dengan suaranya, setiap orang yang mendengar akan tau.

Ayah, Ibu dan seluruh keluarga sontak lari keluar tanpa memperdulikanku, mengacuhkanku sendiri dengan kehampaan. Disinilah saya mengerti arti sebuah keluarga dan kehilangan. Adikku yang tak pernah salah, adikku yang matanya selalu bening. Kamana engkau?

Saya tak pernah berani melihatnya, saya tak berani mendekatinya. Hanya mendengar beberapa orang yang berbisik bahwa kepalanya berlubang namun mukanya tetap bersih, ada yang bilang tangan kanan dan perutnya tersayat. Saya yang hanya duduk menagis tanpa suara, yang membuatku semakin gila. Saya mengerti, kini saya sendiri.

Sampai ketika jenazah adikku mulai akan disholatkan dan segera dibawa ke tempat tidur panjangnya, saya mulai bergeming. Saya yang hanya duduk diruang tamu yang tak berani melihatnya tersentak oleh ucapan “Maaf”. Entah energi apa, saya pun berlari dan meminta membuka kafannya, saya berteriak ingin memeluknya. Saya menciumnya. Mengucapkan permohonan maaf, saya berjanji ingin menjaganya, saya ingin mengajaknya bermain. Saya ingin selalu bersamanya. Saya hanya berteriak tak memperdulikan sekitarku. Hingga dari belakang, sebuah pelukan hangat memegang hatiku untuk diam. Saya tak ingat betul siapa dia, yang kutahu sepertinya itu Ayah.

Ini malam pertama tanpa hidupnya. Saya tak berani tidur di kamar, saya lebih tak berani menatap orangtua saya. Terakhir saya melihatnya, say asemakin terluka. Hingga yang saya pikirkan hanya kehampaan.

“Maaf”, saya mendengarnya lagi dan berulang-ulang, serasa semakin dekat. Sekelebat saya melihatnya persis di samping pintu, menggigil, bergetar dan mengucapkan kata “Maaf”. Saya pun tiba-tiba berlari mendekatinya, namun apa yang terjadi. Dia menghilang untuk selamanya. Dan malam berikutnya, setiap malam semua itu mengusik tidurku, semuannya teringat jelas dihatiku. Semuanya. Bahkan ketika selang beberapa tahun setelah itu, saya selalu merasakan kehadirannya. Di belahan jiwaku. Adikku yang jiwamu selalu bersinar, engkaulah hidupku. Karnamu saya masih hidup sampai hari ini. Karnamu saya mengerti penderitaan orangtua. Karnamu. Forever In My Hearth, For ever!

 

(banyak yang saya tak kisahkan, entah saya takut terlalu jauh bercerita, atau saya tak tau bagaimana harus mengungkapkannya)

4 Comments Add yours

  1. BiLova says:

    sumpah,,aq sampe berkaca2 bacanya…

    1. AnggaRiezky says:

      trimksih sudh mau membaca catatanku,. hanya ingin mengenang masa lalu,. entah semoga menguatkn hatiku ktika mengingtnya,.

  2. zhanaz45 says:

    Waduuhh..

    panjang amat sobb😯, ijin nyimak dulu yach sobb..:mrgreen:

    1. AnggaRiezky says:

      silhkn sob,. trmksh sudh membacanya sob,. #penyala lilin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s