The Skeleton of Science


“…..tapi kebenaran lalu menjadi rumit, Andai ke-takbenara-an yang dibenarkan; Keadilan lalu jadi sulit, Andai ke-tidakadil-an yang dibenarkan!”

Jujun S. Suriasumantri, 1966

Saya sering mendapat pertanyaan tentang ilmu yang saya pelajari. Bukan, ilmu tanah tepatnya tapi ilmu lain yang saya pelajari. Sebagian dari mereka menanyakan hal yang sama. “Kenapa kamu belajar itu?”, “Bukankah itu bukan bidang ilmu yang seharusnya kamu pelajari?”, atau yang lebih ekstrem, “Seharusnya kamu tidak mengambil jurusan ini”, “Sepertinya kamu salah jurusan”.

Beberapa pertanyaan atau pernyataan tersebut seringkali hanya saya jawab dengan senyuman, nyatanya saya memang menyukai dan membutuhkan ilmu lain tersebut. Menurut saya, pembatasan pengkajian ilmu hanya akan membatasi ruang gerak kita untuk membahas ilmu yang kita tekuni lebih dalam.

Berbicara tentang ilmu, sudah menjadi fakta bahwa ilmu semakin terspesialisasi yang menyebabkan sebuah kajian menjadi sempit hingga pembatasan yang diberikan pun semakin mempersempit kajian. Menurut William barret hal ini disebut Deformation professionalle yaitu perubahan bentuk sebuah ujud dilihatdari kacamata profesional. Jadi pada hakikatnya penglihatan ilmu yang kita tekuni bersifat sempit dan sektoral sehingga mendorong manusia untuk melakukan pendekatan multi-disipliner terhadap suatu permasalahan. Dalam pembahasahan historis dan filsafati pendekatan ini menyebabkan sarana berpikir yang mengikat berbagai disiplin keilmuan dalam penelaahan bersama.

Seringkali saya tidak puas hanya melihat penelaahan dari satu disiplin ilmu. Nyatanya hal tersebut memberikan analisis yang kurang akurat, masih banyak kelemahan dan terkadang menjatuhkan beberapa aspek. Demikianlah saya telah melihat berbagai keterbatasan yang dipunyai ilmu. Jauh darikekurangan dan kelebihan ilmu harus digunakan sebagai pedoman untuk memecahkan permasalahan.

Harus di sadari pula bahwa ilmu hanya sekedar alat yang semuanya tergantung kepada kita untuk menggunakan ilmu itu dengan baik atau tidak. Menolak kehadiran ilmu dengan picik berarti kita menutup mata terhadap kemanjuan masa kini.

Lantas kenapa saya menuliskan ini? Saya sadar bahwa ilmu yang saya tekuni tidaklah akan maksimal ketika tidak ditunjang dengan ilmu yang lain. Saya belajar filsafat, sosial, politik, hukum bahkan ekonomi dan sastra karena saya sadar itu semua perlu untuk membuat disiplin ilmu saya berkembang. Pertanian tanpa melihat celah permasalahan dari segi sosial, politik dan budaya saya rasa hanya akan menghasilkan teori belaka. Maka, disini kehadiran disiplin ilmu yang lain adalah bentuk cinta saya terhadap pertanian. Sehingga, saya tidak pernah merasa bahwa diri saya memasuki disiplin ilmu yang salah, nyatanya saya menyukai semua hal ini.

Orang yang sungguh-sungguh berilmu adalah orang yang mengetahui kelebihan dan kekurangan ilmu, di atas dasar itu, harusnya orang menerima ilmu sebagaimana adanya, mencintainya dengan bijaksana, serta menjadikannya bagian dari kepribadian dan kehidupanya. Bersama-sama displin ilmu lain dan bersama pelengkap lain (Seni, agama), ilmu melengkapi kehidupan dan memenuhi kebahagiaan. Tanpa kesadaran itu, maka kita seperti dalam ketidaktahun kita atas ilmu.

Syair Byron dalam Manfred dimana pengetahuan tak membawa kita bahagia,dan ilmu sekedar bentuk lain dari ketidaktahuan;

Knowledge is not happines, and science

But and exchange of ignorance for that

Which is another kind of ignorance

2 Comments Add yours

  1. blognya keren..boleh donk dibagi ilmunya

  2. AnggaRiezky says:

    hehe,. boleh2,. mari berbagi ilmu,. sya suka berbagi, sya suka berdiskusi,. blognya mas juga menarik,. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s