Nunc scio quid sit Amor


Akhirnya ku tahu juga wajah cinta. Kalau kemudian ada kawan yang baca lantas menanyakan “Apakah kamu sedang jatuh cinta?”, saya akan menjawab dengan yakin, “A, ne” –mengiyakan-.

Lalu jika kawan kemudian menanyakan pada siapa? Saya akan menjawab, “diri sendiri”. Haha, maaf, agak garing. Ya, tapibenar saya sedang dalam masa menyukai diri sendiri. Masih ingat catatanku yang lalu bahwa diri saya ada dua, yaitu aku (tubuhku) dan pikiranku. Kini saya mulai mencintai cara pikirku tepatnya.

Selepas beberapa minggu yang lalu, saya mulai melakukan beberapa kegiatan semasa SMA. Menulis, membaca, menonton, mendengarkan musik, bercerita dengan kawan, dan berimajinasi. Entah kenapa, semakin saya melakukan aktivitas itu saya mulai menemukan banyak hal lama yang sebenarnya sudah membentuk pribadi saya. Saya menyenangi diri saya yang mulai banyak tersenyum dengan hanay membaca buku, menulis atau sekedar nonton. Saya menyenangi diri saya yang mulai banyak bermimpi, mengurai impian menulis impian baru. Saya suka diri saya yang mulai menyakini tentang banyak hal.

“Ah, seandainya dulu saya tetap seperti itu”, keluhku

Lantas saya pun berpikir ulang. Jika saya tidak mengalami hari-hari setelah dulu maka saya tidak akan menemukan dulu. Pkirku, ini lebih baik dari dulu.

‘Ingin saya menuliskan sejarah dengan satu kalimat”

-Jangan Putar Jarum Sejarah-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s