Berpikir Ada Hantu


Hantu? Ya, seberapa sering kita mendengar kabar hantu. Serasa mereka lebih populer dari masa ke masa bagaikan sebuah legendaris melebihi Michael Jakson atau yang baru-baru ini santer dengan Hitsnya Baby, Oke, You know?

Beberapa hari lalu seorang kawan di universitas bercerita kepada saya tentang pengalamannya dengan hantu. Ini adalah malam setelah lama kita tidak berjumpa, sambil melahap makan malam cerita pun seru seperti sedang mengosipkan hantu dengan terornya. Saya hanya tertawa mendengarkan cerita dia. Walaupun yang dia ceritakan adalah pengalaman rekannya tapi sepertinya dia pun cukup ketakutan.

Ketika sebuah pertanyaan terlontar “Kamu pernah lihat hantutidak?”

“Oh, tidak pernah, bahkan brpikir hantu seperti apa pun tak bisa terimajinasikan”, sambung denagn tawaku, lalu saya lanjutkan, “Mungkin hantu Cuma ada di film-film horor saja, yah, taulah film indonesia kan pinter buat film horor yanga da bonusnya”, kami pun sontak tertawa bersaama.

Oke kawan, ini bukan kelas gosipin hantu ya. Atau jangan-jangan habis ini ada yang berpikiran buat tayangan Inserh (Informasi Selebriti Hantu) hehe. Kasihan hantunya nanti GR (Habis ini, didatangi hantu sambil bawa perabotan pembantaian atas tuduhan pencemaran nama baik).

Mari kita serius. Saya bukanlah orang yang mempercayai hal supranatural. Semacam hantu atau bahkan benda yang bisa ini itu. Jauh dalam pikiran saya bahwa hal itu ada. Bgahkan, beberapa pengalaman masa lalu pun tak pernah saya anggap ada. Yang saya anggap ada adalah pikiran saya.

Cogito ergo sum! (saya berpikir maka saya ada!). Barangkali pemikiran Descartes ini benar. Atau mari kita sama-sama ragukan pemikiran Descaretes. Hehe. Saya berpikir bahwa hantu tidak ada sehingga saya belum pernah melihatnya. Barangkali, sebagian orang dengan pengalaman bertemu dengan hantu adalah pengalaman inderanya tentang hal berhantu. Semisal mereka melihat tayangan hantu di televisi atau film. Sontak, pengalaman inderanya menggambarkan sosok hantu. Dan pada suatu kesempatan, ternyata mereka berada disebuah tempat yang ternyata disinyalir bnayak hantunya. Pengalaman inderanya dan pemikirannya membuat dia berimajinasi bahwa ada hantu. Saya namakan ini kombinasi ketakutan. Sehingga hantuitu ada (ada di imajinasinya). Dan ketika mereka dengan rekan-rekannya, ternyata hanya dia yang melihatnya. Nah, disini saya menympulkan bahwa pikiranlah yang membuat sesuatu itu ada.

Jadi kalau tiba-tiba disuatu kegiatan malam, ada salah satu rekan kita melihat hantu. Tanyakan lagi kebenarannya. Jangan-jangan itu hanya pkiranya saja. Mungkin kalian bisa menantang hantu itu untuk menampakan diri. Ini saran saya untuk mereka yang berpikir hantu tidak ada. Nah kalau ternyata hantu itu tiba-tiba menampakan diri. Pertanyaannya adalah, pertama bahwa kalian ikut berpikir bahwa hantu itu ada. Kedua, jangan-jangan hantu itu memang ada? Haha

Terlepas dari itu semua, mari kita resapi pernyataan dari Berkeley, “To be is to be perceived” (ada adalah disebabkan persepsi).

Dalam sebuah buku yang mengambarkan sebuah tembok universitas ternyata filsafat, sastra dan lagu bisa disandingkan. Kurang lebih ini tulisannya.

To be is to be perceived (Berkeley)

To be or not to be (hamlet)

To be do be do (dam! dam!) (Arie Kusmiran)

Pertanyaan terakhir adalah, siapa yang menuliskan ini?. Jangan-jangan hantu  yang menuliskannya? Ingat ada karena kita berpikir itu ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s