Story Of Great Life (3) – Father, How Are You Today?


Jika dalam hidup ini telah berakhir dengan hanya satu kesempatan. Maka, saya ingin menulis kenangan lama yang terus mengantarkan saya hingga hari ini. Seperti masa lalu yang tersu melekat dalam hidup. Kenapa saya harus menuliskan hal ini dan itu? Saya tidak tahu ingin melakukan apa. Saya hanya mempercayai bahwa tulisan ini yang akan memberikan kesadaran bagi saya. Atau mungkin, karena tulisan ini, saya mulai terbuai dalam kegilaan dan ilusi yang mendalam. Entah, saya tak pernah tau.

Ini hanya cerita tentang Ayah. Tentang kesaksiannya mengawal hidup. Tentang perjuanganya mnyelamatkan setiap peristiwa agar lebih indah. Tentang bagaimana dia selalu diam menanggapi situasi. Ini, sepenggal cerita untukmu.

Awalnya saya binggung ingin menuliskan apa. Setiap kata yang saya coba ketikan bagaikan sesuatu yang  tak bermakna. Berkali-kali kucoba mengulang rangkaian kata untuk menggambarkan betapa dia sungguh mengaggumkan bagi saya. Namun semua sia-sia belaka. Yang kutuliskan hanya sebuah ungkapan sederhana dari kerinduan pemuda akan kasih sayangnya. Disini, dimalam yang berkabut. Ayah.

Dulu, sejak kecil saya merupakan anak yang cukup beruntung. Berulang kali bahkan hampir setiap minggu saya harus merasakan tempat itu hingga akhirnya saya hafal bahwa inilah rumah saya. Pergi dari satu tempat ke tempat lain hanya untuk beberapa butir yang kata sebagian yang mempercayainya adalah butir kehidupan. Saya menganggap itu sampah.

Berulangkali pula, saya dikatakan tidak akan selamat tapi apa yang terjadi. Berulangkali pula saya masih bisa merasakan udara. Saat saya mulai mengerti, saya sadar bahwa dokter itu penuh kesalahan, bisa jadi dia lebih pintar dari pujangga. Hingga ditahun-tahun berikutnya, seakan saya membodohi kedua orangtua saya dengan tidak meminum butiran keidupan itu. Kini, kalau saya skeptis dengan berbagai macam pengobatan, saya mengatakan ya. Saya lebih mempercayai Tuhan.

Kalau ingin mengulang lagi. Yang membuatku terus bangkit adalah dia. Sadar atau tidak, kebetulan atau tidak dia sering menyelamatkan hidup dengan caranya. Pernah sakit saya kambuh hingga sulit untuk bernapas. Kata ibu, dokter sempat mengatakan bahwa dia tidak sanggup. Dan apa yang terjadi ketika Ayah saya datang. Seketika hidupku membaik. Semua itu dari Ayah. Atau hanya kebetulan belaka. Entahlah.

Kini saya sudah dewasa. Bahkan bisa dikatakan dalam 100 kejadian mungkin hanya 1 kali saya mengalami hal sulit tentang masalah itu. Dan sisanya bukan lagi dia yang menyelamatkan hidupku.

Saya sering memimpikanya memanggil namaku dengan pelan, bahkan sering setiap ucapanya tak pernah saya tangkap dengan baik. Samar-samar saya mencoba mendengarkan keluhnya dengan lebih baik. Tapi, yang selalu kudengar hanya bagian ketika dia menyebutkan namaku. Saat itu, apa yang kulakukan dalam mimpi? Saya hanya diam tak beranjak.

Kesal betul mendapati diriku seperti itu setiap mimpiku berulang lagi. Dan ketika saya terbangun, saya takkan pernah memaafkan diri sendiri. Mungkin juga, saya takkan memaafkan dunia mimpi karena telah memojokanku dalam situasi yang telah mengubah diriku menjadi orang asing.

Kata yang terucap dari mulutnya hanya namaku. Dia memanggil dengan bergetar tapi saya tak menyahutnya. Kelu.

Akhirnya saya mengafirmasi diri bahwa ini hanya mimpi dan saya coba mengambil hikmah. Saya mendapatkanya, saya selalu dicoba untuk mengingatnya. Mengingatnya akan penyelamatan. Mengingatnya untuk selalu hidup. Kini kesadaran saya pun pulih bahwa ketika banyak pikiran sering membawaku pada naluri paling dasar. Dialah yang kemudian menyelamatkanku dalam kewarasan.

Saat kututup tulisan ini. Saya ingin mengatakan sebuah kata yang tak pernah kuucapkan didepannya. Bahkan ketika ketidakpernahan bertemu dengannya lagi. Hari ini, saya ingin menuliskanya. Ayah, Bagaimana kabarmu disana?

Saya mengerti apa yang dia inginkan dan apa yang dia pikirkan. Saya hanya akan memberikan keyakinan. Bagi peristiwa hari ini, bagi anak-anak yang akan terlahir nanti. Saya akan menyakinkanmu bahwa masa lalu tak akan menjadi masa depan mereka. Tapi akan kubiarkan mereka mengerti masa lalu agar mereka lebih dari apa yang engkau inginkan.

Ayah, dilubuk hatiku paling dalam. Saya ingin mengabdi.

Bersambung …..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s