Belajar dari “Patch Adams”



Berdasarkan kisah nyata, film ini bercerita tentang Hunter “Patch” Adams, seorang mahasiswa kedokteran yang berusaha mencerahkan dunia kedokteran yang “dingin”. Dokter-dokter yang kaku dan acuh tak acuh menggelitik Patch. Kebanyakan dokter hanya peduli dengan penyakit pasien. Menurut Patch, paham ini harus ditinggalkan. Arti sehat bukan hanya semata-mata bebas dari penyakit, melainkan juga kepenuhan atau kesejahteraan secara fisik, mental, dan sosial (WHO dalam Pyke, 1968). Seharusnya dokter tidak hanya merawat penyakit, tetapi juga pasiennya. Apabila dokter memperhatikan aspek psikologis pasien, semangat hidup pasien akan timbul dan pasien akan lebih memperhatikan kesehatannya. Hal inilah yang mendorong Patch menggunakan metode “humor – humanisme”. Ia berusaha membuat pasiennya senang dan nyaman.

Dalam bukunya, House Calls, Adams mengatakan bahwa tujuan pertama yang harus dicapai setiap kali ada pasien yang datang adalah menjalin persahabatan. Pertemuan pertama bisa berlangsung antara 3 – 4 jam. “We might go for a walk. If you like to fish, maybe we will go fishing. If you like to run, we run together, and I’ll interview you while we are running. By the end of that time, I hope we have a trust, a friendship starting to develop, and from there we can proceed.” Mitch Roman, rekan Patch yang menentang pendekatan Patch, merasa frustrasi. Walaupun pengetahuan dan keahliannya menyembuhkan penyakit tidak diragukan, ia tidak dapat membuat pasiennya makan.

Saya ingat dengan adegan ketika Patch, untuk pertama kalinya, ke rumah sakit yang dikelola kampusnya. Saat itu Patch dan temannya menyusup di antara mahasiswa kedokteran yang sedang melakukan kunjungan. Di depan mereka, seorang perempuan, yang kakinya hampir busuk akibat diabetes, sedang terbaring. Mahasiswa-mahasiswa kedokteran itu sibuk bertanya tentang penyakitnya kepada dokter senior. Perempuan tersebut tampak bingung, seolah bertanya “Apakah yang kalian pedulikan hanya penyakitku?” Berbeda dengan yang lainnya, Patch malah menanyakan namanya. Setelah itu, pasien tersebut tersenyum, seperti mengucap terima kasih, “akhirnya ada orang yang benar-benar peduli pada saya”. Secara pribadi, adegan ini paling menyentuh saya. Hal kecil, seperti menanyakan nama, ternyata dapat membuat pasien merasa senang. Pasien tidak selalu hanya butuh janji apakah ia akan sehat. Sebuah perhatian dapat membuat harinya lebih cerah.

Kritik kedua Patch terhadap dunia kedokteran adalah anggapan bahwa kematian adalah musuh yang harus dikalahkan. Kalah dan menang dokter ditentukan dari keberhasilannya menyembuhkan penyakit. Sedangkan Patch menganggap kematian sebagai hal yang tidak perlu ditakuti karena kematian merupakan proses alami dalam kehidupan. Manusia pada akhirnya akan mati. “Why can’t we treat death with a certain amount of humanity and dignity, and decency, and God forbid, maybe even humor.” (“Patch Adams”, 1998). Apabila dokter memfokuskan dirinya untuk merawat pasien, tidak akan ada kekalahan.

Kematian merupakan proses yang menakutkan. Pasien-pasien, terutama dalam kasus penyakit terminal, seringkali stres karenanya. Kadangkala pasien ini butuh membicarakan kematian dengan seseorang. Dalam film ini, ada seorang pasien bernama Bill Davis yang perangainya sangat buruk. Ia sering mengusir dokter dan perawat yang berkunjung ke kamarnya. Pada awalnya, Patch juga ditolaknya. Akan tetapi, ketika Patch mengajak Bill untuk membicarakan kematian, Bill merespon dengan cukup baik. Sejak saat itu, Bill mau menjalani perawatan dengan baik. Ini merupakan adegan kedua yang paling berkesan untuk saya. Patch berani mengambil resiko membicarakan topik yang dianggap paling tabu untuk dibicarakan dengan seorang pasien. Ternyata itulah yang dibutukan oleh pasien.

Dalam film ini, Patch juga mengritik biaya rumah sakit yang terlalu mahal. Rumah sakit telah melupakan aspek kemanusiaan dan lebih mementingkan uang. Seorang ibu, yang anaknya baru meninggal, tidak boleh menengok anaknya sebelum menandatangani formulir. Keadaan seperti ini membuat masyarakat ragu untuk datang ke rumah sakit. Melihat keadaan ini, Patch mendirikan Gesundheit dimana pasien yang datang tidak perlu memusingkan soal biaya.

“All of life is a coming home” (“Patch Adams”, 1998). Semua orang mencari rumah dalam perjalanan hidupnya. Tempat yang terbaik adalah rumah. Mengambil filosofi ini, Gesundheit dikondisikan seperti rumah. Orang-orang di dalamnya seperti keluarga. Masing-masing orang di sana, termasuk pasien, diwajibkan untuk saling merawat satu sama lain, seperti memasak, mengganti perban, ataupun mendengarkan keluh kesah. Semua orang saling membantu untuk meredakan “badai” dalam hati mereka.

Secara keseluruhan, film ini ingin mengajak pelaku dunia pelayanan kesehatan untuk kembali kepada akarnya, yaitu untuk membantu orang. Akan tetapi film ini masih menyisakan pertanyaan dalam realitanya. Dalam dunia pelayanan kesehatan Indonesia, seringkali terdengar keluhan pelayanan rumah sakit yang kurang bermutu dan tidak profesional, atau kurang empati dalam melakukan program pelayanan kesehatan terutama di rumah sakit. Semoga saja pemerintah dan pelaku pelayanan kesehatan Indonesia mempunyai semangat seperti Patch yang senantiasa setia membantu orang lain dengan senyum dan harapan.

Kalua harus dinilai, sangat jujur film ini isa diberikan A++ (Sangat Bagus). Lengkap sudah seluruh cast yang diperankan, setting yang bagus dan saya rasa ini akan mewakili seluruh kebanyakan film drama. Humor disajikan secara intelektual, bahkan etika disuguhkan dengan banyak catatan kritis. Sangat direkomendasikan untuk ditonton bersama keluarga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s