Marathon



RR                    : marathon

Sutradara        : Jeong Yoon-chul

Produksi          : Cineline

Penulis             : Jeong Yoon-chul

Distribusi         : Showbox

Rilis                 : 2005

Resensi

Marathon (Hangul: 말아톤, Maraton) (2005) adalah film korea selatan berdasarkan kisah nyata Bae Hyeong-jin , seorang pelari yang kebetulan memiliki autis. 

Berdasarkan kisah nyata kemudian seorang pemuda autis diperankan menjadi sebuah sosok Cho-Won. Berawal ketika Cho-Won menjadi seorang anak, dengan penyakit autisnya dia sering mengalami ketidakseimbangan dalam dirinya, mengamuk , sebuk dengan dunianya sendiri serta menolak berkomunikasi dengan orang lain. Satu hal yang membuat Cho-Won selalu hidup, betapa dia sangat damai ketika melihat zebra dan snack Korea, Chocopie.

Ibunya tak pernah menyerah, walau sering mengeluh dengan penyakit anaknya namun dia bertekad untuk membuat Cho-Won hidup normal. Dia sering mengajak anaknya menaiki gungung, merasakan alam, memberikan sentuhan pada makhluk hidup disekitarnya dan dari situlah Cho_Won belajar akan kehidupan hingga dia mampu untuk berkomunikasi dan bekerja secara teratur.

Kini Cho-Won semakin besar, dia mulai memiliki tekad untuk menjadi pelari. Ibunya berjuang keras untuk mendorong dan mendukung dia. Meskipun Ibunya menderita dari keluarga pasca bercerai denagn suaminya dan memiliki banyak masalah keuangan. Hingga akhirnya, mereka menemukan mantan juara marathon yang dimintai tolong untuk melatih Cho-Won berlari.

Setiap latihan, guru Cho-Won tak sering serius. Dia lebih sering melakukan penyiksaan fisik dengan menyuruh Cho-Won lari memutari lapangan berkali-kali. Namun suatu ketika, dia sadar bahwa Cho-Won hanya seorang pemuda yang memiliki tekad. Akhirnya guru tersebut membawa Cho-Won kesebuah training lari.

 Cho-Won  mengambil tempat ketiga dalam lomba lari 10km, yang menyebabkan ibunya untuk menetapkan tujuan lain untuk anaknya: untuk menjalankan penuh maraton di bawah tiga jam.  Ini bukan tugas yang mudah, namun, seperti Cho-Won ingin menang tetapi tidak tahu bagaimana kecepatan sendiri.  Film ini menunjukkan emosional perjuangan seorang Ibu yang tidak yakin apakah ia memaksa anaknya untuk menjalankan atau jika itu benar-benar adalah gairah-Nya. Akhirnya Cho-Won berhasil sebelum ia pingsan dijalan, ia ingat dengan banyak perjuangan ibunya.

Film ini lebih mengeksplorasi dan menunjukkan kasih yang mendalam dan kemurnian sejati melalui Cho-Won.

Pendapat

Pertama melihat film ini, saya agak pusing karna lupa mencari subtitle tapi lewat cinematografinya saya sudah bisa mengikuti jalan ceritanya. Yang jelas ada kepuasan batin, ada realita dan ada banyak sentuhan yang akan membuat kita lebih semangat dan mungkin berkali-kali berpikir tentang esensi kehidupan.

Karna ini kisah nyata, menurutku Jeong Yoon-chul berhasil mengantarkan kisah hidup saeorang penderita autisme. Dan lewat film ini pun saya nememukan banyak nilai. Tidak masalaha kita berbeda, tidak masalah pula kita memiliki kekurangan bahkan tidak masalah ketika kita tidak bisa mendengar, berbicara, melihat bahkan kita memiliki banyak penedritaan fisik. Hanya satu yang akan membuat semua itu lunak dan mendamaikan yaitu hati. Maka film ini benar-benra menyentuh hati kita, bagi yang ingin menyombongkan diri maka lihatlah film ini dulu.

Secara cinematografi saya rasa cukup, hanya saja ada beberapa sketsa yang seringkali tidak perlu di lihatkan. Saountrack cukup menarik. Penokohan juga cukup baik. Direkomendasikan menonton bersama keluarga.

Penilaian

B (Bagus)

 

Pemain

One Comment Add yours

  1. warnarafusa says:

    mau link nya boleh?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s