Hanya Satu Kata : Lawan!! Puisi dan Alat Perjuangan



Peringatan

Jika rakyat pergi

Ketika penguasa pidato

Kita harus hati-hatiBarangkali mereka putus asa

Kalau rakyat sembunyi

Dan berbisik-bisik

Ketika membicarakan masalahnya sendiri

Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat tidak berani mengeluh

Itu artinya sudah gawat

Dan bila omongan penguasa

Tidak boleh dibantah

Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik tanpa alasan

Dituduh subvertif dan menganggu keamanan

Maka hanya ada satu kata : Lawan!!

Wiji Thukul (Solo, 1986)

“Hanya ada satu kata : Lawan!!” Kalimat singkat itu mungkin telah menjadi simbol perlawanan, tidak hanya pada zamanya tapi sering jkali kita mendengar cuatan kata tersebut dalam front berbagai pembelaan, aksi dan sebagainya. Walaupun kalimat singkat tersebut tidak sepopuler  Vini Vidi Vici “dari rakyat, oleh rakyat untuk rakyat” akan tetapi kalimat itu bukti dari perjuang menentang berbagai rezim dan bentu penindasan lainya.

Wiji Thukul membuat puisi-puisi didasari atas kepercayaanya bahwa seni merupakan salah satu alat perjuangan. Lewat seni, dia percaya bahwa puisi dapat melawan ketidakadilan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s