Blaming the Victims : Meninjau Penurunan Anggaran Subsidi Sektor Pertanian


“Pemerintah pada tahun 2011 telah menetapkan sasaran produksi untuk berbagai komoditas utama. Sasaran produksi padi ditetapkan sebesar 68,8 juta ton gabah kering giling (GKG). Produksi jagung diharapkan pada tahun 2011 mencapai 22 juta ton kering pipilan dan kedela harus bisa mencapai produksi sebesar 1, 01 juta ton. Sedangkan sasaran produksi gula nasional pada tahun 2011 ditetapkan sebanyak 3, 87 juta ton”. Kementrian Pertanian

Sungguh sebuah usaha yang luarbiasa apabila pernyataan dari kementrian pertanian diatas dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan tentunya tidak merugikan kepentingan masyarakat petani pula. Namun belum lama ini, ketika pernyataan diatas dilayangkan, sayang sekali akhirnya sebuah kebijakan baru diputuskan dimana pemerintah menurunkan anggaran subsidi sektor pertanian yang dalam hal ini pupuk dan benih.

Walaupun pemerintah masih mengalokasikan anggaran untuk subsidi pupuk pada tahun 2011 ini namun melihat besarya anggaran berkurang dibandingkan tahun lalu. Alokasi anggaran untuk subsidi pupuk ini berkurang sekitar 11 persen lebih atau sebesar Rp. 2, 06 triliun dibandingkan tahun 2010. Seperti diketahui subsidi pupuk pada tahun 2010 mencapai Rp. 18, 41 triliun sedangkan pada tahun 2011 hanya anggarkan sebsar Rp. 16, 31 triliun.

Sekjen Kementrian Pertanian Hari Priyono sebagaimana dikutip Yahoo mengatakan bahwa hal itu disesuaikan dengan tingkat penyerapan pupuk di tingkat petani yang semakin rendah. Lebih lanjut Hari Priyono mengatakan bahwa petani semakin menyadari bahwa penggunaan pupuk kimia yang berlebihan akan merusak tanah dan berdampak terhadap penurunan produtivitas tanaman.

Penulis sepakat apabila subsidi untuk pupuk kimia dikurangi karena petani sudah mulai sadar akan bahaya pupuk kimia serta akhirnya beralih menggunakan pupuk organik. Namun bukankah untuk menggunakan pupuk organik juga memerlukan anggaran dimana dalam sebuah kesempatan, penulis bertemu dengan pihak produsen pupuk organik. Beliau menyatakan bahwa kebutuhan akan pupuk organik memang naik mulai tahun 2010 sedangkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut terkadang tidak bisa trecukupi. Hal inilah yang dikawatirkan produsen bahwa ditahun berikutnya mereka tidak bisa menyuplai permintaan akan pupuk organik, alhasil kenaikan harga pupuk organik akan melambung tinggi. Inilah yang harus diperhatikan pemerintah bahwa apabila mereka hanya terkonsentrasi pada pupuk kimia tanpa memperhatikan subsidi pupuk organik maka bisa saja apa yang disampaikan kementan terkait dengan sasaran produksi tidak akan tercapai dan lagi-lagi petani yang akan mendapat imbasnya.

Selain itu, jika dianalisis lagi maka penurunan subsidi pupuk anorganik ini juga akan berimbas pada kenaikan harga eceran tertinggi (HET). Kenaikan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi ini sebenarnya sudah diprediksi oleh beberapa kalangan. Apalagi setelah DPR RI menolak tambahan subsidi bagi pupuk bersubsidi ini. Kementrian pertanian sebelumnya mengusulkan tambahan subsidi ke DPR RI untuk menambal agar harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi tetap tidak ada kenaikan. Tidak adanya tambahan subsidi ini menyebabkan HET pupuk bersubsidi ini akhirnya dinaikkan menjadi kurang lebih 30-40% dari HET awal. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian RI No.: 32/Permentan/SR.130/4/2010 tentang Perubahan Peraturan Menteri Pertanian No. 50/Permentan/SR.130/11/2009 tentang Kebutuhan dan Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi Untuk Sektor Pertanian Tahun Anggaran 2010

Selain subsidi pupuk yang mengalami penurunan, subsidi untuk benihpun mengalami penurunan. Subsidi benih yang sebelumnya pada tahun 2010 mencapai Rp.2, 26 triliun, pada tahun 2011 hanya dianggarkan sebesar Rp. 1, 85 triliun. Subsidi benih pada tahun 2011 ini menurun sebesar 18, 14 persen atau sebesar Rp. 0, 41 triliun.

Kalau apa yang disampaikaan oleh Sekjen Kementrian Pertanian memang benar, penurunan subsidi pupuk itu disesuaikan dengan serapan pupuk bersubsidi oleh petani yang semakin berkurang. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah mengapa subsidi untuk benih juga dikurangi, padahal benih bermutu yang bersubsidi ini sangat membantu para petani dalam meningkatkan produksinya. Pengurangan subsidi benih otomatis akan membuat harga benih akan naik. Sedikit banyak ini akan menaikkan biaya produksi petani.

Penurunan subsidi pupuk dan benih harus ditanggapi secara bijak apabila indonesia ingin meningkatkan ketahanan pangan. Memang masih ada alternatif terkait degan pupuk dan benih namun lagi-lagi kita harus melihat fakta empiris dalam masyarakat dimana masih banyak petani yang belum siap menghadapi tantangan zaman. Ini mendorong pemerintah untuk peka terhadap kondisi riil masyarakat untuk mengambil sebuah kebijakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s