Antara Kearifan Lokal Masyarakan Papua dan Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE)


“410,9 juta meter kubik kayu diperkirakan akan dieksploitasi dari lahan seluas 2,5 juta hektare. Di pasaran internasional, nilainya bisa mencapai 375,51 triliun rupiah. Jika dikalkulasi dengan harga patokan lokal di Papua, estimasi nilai tegakan kayu 410,9 juta meter kubik kayu itu sedikitnya 120,87 triliun rupiah”. Direktur Eksekutif Greeno mics Indonesia Elfian Effendi di Jakarta, Selasa (23/3) 2010. 

Membicarakan tentang ekploitasi lahan papua maka lagi-lagi kita harus menilik mega proyek Food Estate yaitu Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE). Food estate sendiri merupakan konsep pengembangan produksi pangan yang dilakukan secara terintegrasi yaitu mencakup pertanian,perkebunan, dan peternakan di kawasan lahan yang sangat luas, serta dikonsentrasikan di luar Pulau Jawa. Hasil pengembangan food estate bisa memperkuat ketahanan pangan nasional. Itulah yang sering kita ketahui tentang food estate.

Menilik budidaya pertanian yang dilakukan pada food estate maka hal ini hanya akan cocok bagi para pemodal besar. Sebanyak 37 investor telah siap untuk menanam investasi bagi proyek ini dimana 2 diantaranya yaitu Grup Cendrawasih dan Grup Rajawali sudah mencapai proses analisis dampak lingkungan. Bukan perkara apakah food estate dapat mencapai ketahanan pangan namun sepertinya Menteri Pertanian melupakan tugasnya yaitu membela kaum tani dan bukan melepaskan tanggungjawabnya untuk memajukan kaum tani yang sebagian berlahan kecil.

Dalam penyelenggaranya, pro dan kontra dari proyek ini sangatlah terlihat. Namun tampaknya pihak pro food estate setidaknya menganalisis lebih jauh terkait dengan permasalahan yang akan ditimbulkan pasca food estate ini dijalankan. Ada orientasi yang berbeda antara model food estate yaitu pertanian skala luas dengan pertanian masyarakat indonesia yang mayoritas berlahan sempit. Dalam pertanian indonesia yang biasanya hanya untuk pemenuhan kecukupan pangan keluarga tani namun tujuan utama dari perusahaan pangan yang akan berinvestasi di Food estate ini hanya memperpendek payback periode untuk meraup untung besar. Bukan untuk mengatasi kelaparan, karena kalau pun stok pangan berlebih tetapi petani tetap tidak memiliki uang, maka mereka pun tidak dapat membeli kebutuhan pangan. Sehingga bukan ketahanan pangan yang dicapai namun semakin memperparah status sosial masyarakat.

Adapun Ambisi pemerintah itu bukan tanpa masalah. Paling tidak, suara kekhawatiran sudah dilontarkan banyak kalangan pemerhati lingkungan. Kerusakan lingkungan dan terpinggirkannya petani adalah dua hal yang mengemuka. Pertanyaannya, untuk mengatasi atau memperkuat kebutuhan pangan, mengapa pemerintah tidak memperhitungkan dampak panjang akibat proyek kawasan pangan itu?

Menteri Pertanian Suswono mengatakan bahwa proyek food estate di papua tidak akan membuka lahan baru khususnya areal hutan. Namun sampai saat ini dari 35 calon investor lain baru pada tahap mendapatkan izin pendirian lokasi dari bupati setempat total lahan yang akan digunakan sebagai proyek ini mencapai 1,6 juta hektare sedangkan lahan yang baru tersedia sekitar 552 ribu hektare, atau sekitar setengah dari total lahan yang diperlukan para calon investor.

Dari data tersebut, dibenarkan bahwa analisis dari Greeno mics nantinya proyek ini akan tetap mengambil lahan hutan mengingat ketersediaan lahan yang ada di papua. Selain itu menyatakan potensi eksploitasi kayu dan hutan di Merauke sangat besar karena lahan telantar yang dialokasikan minim. Berkaca pada pengalaman pengembangan kebun kelapa sawit, lahan gambut sejuta hektare di Kalimantan, maka tidak ada jaminan bahwa kayu di Papua tidak dieksploitasi.

Jelas terindikasi banyak kepentingan dalam proyek food estate ini. Hal ini berkaitan dengan modal yang akan diberikan investor terkait penyelenggaraan food estate. Ketika modal investor yang bermain maka kepentingannya akan mudah diloloskan. Bisa saja lahan yang teralokasi sekitar setengah dari kebutuhan investor bisa dipermudah dengan pemakaian lahan hutan. konkret yang bakal dialami jika kayu dan pohon di hutan diekploitasi untuk lahan foodc estate, maka apa yang diprediksi oleh Greeno mics bisa terjadi selain itu betapa banyak ekosistem akan rusak dan bencana ekologis akan datang.

Harus diwaspadai, bahwa hanya karena untuk mendukung proyek besar ini maka dilakukan upaya alih fungsi lahan hutan secara mudah untuk investor food estate. Dari hal ini, apabila kemudian kementrian pertanian tidak bisa mengupayakan untuk melakukan konsolidasi dengan pihak investor serta tetap berpegang teguh pada amanat rakyat maka Kementrian Kehutanan harus tegas mengalokasikan mana yang boleh dan sesuai amdal dengan lahan hutan yang benar-benar harus diproteksi.

Membahas dampak food estate terhadap masyarakat papua dan kearifan lokal maka dikhawatirkan proyek ini akan mengacak-acak ikatan masyarakat papua dengan alam. Sebuah studi tentang kearifan lokal masyarakat papua oleh Johannes Wob, dosen Sekolah Tinggi ilmu Sosial dan Politik Yaleka Maro bahwa setiap keluarga papua memiliki simbol atau totem yang diambil dari alam. Misalnya, pada keluarga Gebzedisimbolkan dengan pohon kelapa, sementara totem keluarga Balagaize adalah burung elang. Menilik proyek food estate yang akan terindikasi penggunaan lahan hutan maka jika hutan rusak maka warga tidak hanya kehilangan sumber kehidupan dari alam namun juga jati diri tiap keluarga papua serta kearifan lokal masyarakat papua sebagai sumber kekayaan budaya indonesia.

Fakta yang terjadi, dalam tahap persiapan saja, Merauke Integrated Food and Energy Estate sudah menggunakan lahan warga. Lahan keluarga yang digunakan PT Medco Group sebagai tempat penelitian pangan ini setidaknya sudah memberikan konflik yang nyata baik antara pihak food estate maupun antar warga papua. Pertama, bahwa dalam masyarakat papua tidak ada batas yang jelas atas kepemilikan tanah sehingga memungkinkan kesepakatan antara pihak investor dengan satu pemilik lahan tetap akan menimbulkan konflik. Kedua, penggunaan lahan oleh investor bisa saja mengakibatkan perseteruan antarmarga dan suku karena selama ini masyarakat Merauke hanya mematok wilayah dengan batas-batas alam seperti parit, pohon dan sungai.

Walaupun dalam keputusan yang disepakati antara pihak Pemkab Merauke dengan pihak MIFEE bahwa tanah yang digunakan proyek food estate adalah tanah selain tanah sakral milik masyarakat dan Perda akan mengatur status lahan proyek MIFEE yaitu tanah sewa bukan jual beli namun bisa saja dalam berjalannya proyek ini yang dalam persewaanya mencapai 35 tahun dan bisa diperpanjang maka dimungkinkan akan terjadi permasalahan terkait kepemilikan lahan.

Masalah lain terkait dengan alam, jika dilakukan pembukaan hutan maka dipastikan area spon akan cepat melepaskan air. Akibatnya seperti didaerah lain di Indonesia seperti Sumatera, Jawa yang banyak dilakukan alih fungsi lahan hutan maka bisa saja dimusim hujan Merauke akan terjadi kebanjiran atau kekeringan pada musim kemarau. Tak lain dengan hutan, maka padang rumput atau savana luas di Merauke yang hanya satu-satunya di Asia dan cukup luas di dunia juga menjadi sasaran MIFEE. Artinya dapat disimpulkan bahwa keseimbangan alam secara ekologi dapat terganggu. Papua yang merupakan cagar alam dan paru-paru dunia dapat memperparah kondisi lingkungan akibat food estate.

Dengan sederet dampak food estate baik bagi masyarakat papua khususnya Merauke serta kelestarian alam maka sudah jelas bahwa proyek ini masih sarat dampak negatif. Kedepan peran pengawasan dalam implementasi proyek food estate harus digalakan baik pihak kementrian pertanian, kementrian kehutanan, pemda, masyarakat papua dan masyarakat umum untuk terus memproteksi kemungkinan terjadinya dampak food estate. Peran advokasipun harus mulai dilaksanakan untuk mengawal food estate baik pihak yang bersangkutan yang pro rakyat maupun elemen akademisi (mahasiswa .red) sehingga kedepan tidak banyak lagi yang dikorbankan hanya untuk kepentingan beberapa golongan semata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s